Kotaku yang indah menghiasi kaki Pegunungan Taman Wisata Alam Ruteng

Senin, 26 November 2012

Surat Cinta Renata




 Oleh : Agnes Purnama Ndendong





Setiap kali membuka facebook  seorang teman wanita selalu  menyapa dan menanyakan khabarku, namanya Rina Ananda, dengan berjalannya waktu persahabatan kami menjadi semakin akrab walaupun hanya di dunia maya.  Bila lama tidak membuka facebook Rina bertanya  mengapa aku tidak online.  Aku heran mengapa Rina begitu baik padaku, sedangkan aku sendiri tidak merasa ada yang istimewa dari pertemanan kami karena hanya mengenalnya di facebook. Terkadang aku kesel kalau diajak chatting terlalu lama, ada saja bahan obrolannya, aku sering pamit duluan karena merasa  telah banyak menyita waktuku. Anehnya Rina tidak pernah kecewa bila baru disapa aku langsung pamit dengan alasan sibuk. Pernah aku berniat untuk memblokir pertemanan kami tapi tidak tega,  takut Rina tersinggung dan aku tak mau menyakiti perasaanya.

Suatu hari setelah kembali  dari tugas luar kota aku membuka facebook, ternyata ada  pesan darinya, “Marni, mengapa kamu tidak online? Kamu kemana?” dan pesan lain  “Marni, bolehkah aku minta alamat emailmu? Aku ingin mengirim sesuatu untukmu.” Mungkin Rina ingin mengirim brosur bisnis seperti teman-teman lain yang meminta alamat emailku  dan berharap aku tertarik untuk menekuni pekerjaan yang ditawarkan. Agar  tidak kecewa aku  membalas pesannya dan mengirim alamat emailku.

Seminggu setelah mengirim alamat email kepada Rina muncul sebuah email yang ternyata bukan brosur bisnis online tetapi sebuah surat yang cukup panjang. Aku jadi penasaran, mengapa Rina menulis surat buat aku, bukankah kami cuma  kenal di facebook? Aku tak bisa langsung membaca surat tersebut karena sedang menyelesaikan banyak pekerjaan sehingga kucopy ke word dan save ke  salah satu folder, biar kubaca di rumah saja agar tidak mengganggu aktivitas kantor.
    
Email Rina terus mengganggu konsentarsi kerjaku, tapi aku berusaha untuk tidak tergoda agar pekerjaanku tuntas. Setelah makan malam aku membuka laptop dan mencari file surat Rina yang sudah tersimpan di word. Perlah-lahan kubaca surat tersebut.

Dear Marni,
Sebelumnya aku minta maaf bila akan banyak menyita waktumu untuk membaca emailku ini. Aku yakin pasti kamu kaget menerima emailku. Aku mengirim email ini karena ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu sejak pertama kali kita berteman di facebook. Pasti kamu penasaran mengapa aku melakukan hal ini. Ketahuilah bahwa aku sebenarnya istri dari teman SMA mu yang bernama Renata Robertus, kami menikah 15 tahun yang lalu dan dikaruniai 2 orang anak laki-laki, yang sulung bernama Aldo dan si bungsu bernama Marcel. Keluarga kami sangat harmonis, Renata seorang suami yang baik, pekerja keras  dan sangat bertanggung jawab pada keluarga. Namun sayang  5 tahun yang lalu Renata meninggal akibat kanker tiroid. Kami telah melakukan berbagaimacam upaya untuk menyembuhkan penyakitnya tetapi Tuhan  menghendaki lain, akhirnya aku dan anak-anak harus  pasrah ketika Tuhan memanggilnya.

Beberapa hari sebelum meninggal Renata memanggilku ke kamar dan mengambil sebuah surat yang pernah menggoncang rumah tangga kami pada awal pernikahan,  lalu  menarik aku  duduk bersama di tepian tempat tidur. Aku kaget ternyata surat tersebut masih disimpannya. Sepucuk surat cinta Renata untuk teman SMAnya.  Lalu mengatakan kepadaku, “Rina, aku tahu hidupku  tidak akan lama lagi, sebelum aku meninggal aku ingin mengakui segala dosaku dan meminta maaf padamu.” Sambil menggenggam  kedua telapak tanganku dengan erat dan berali-kali diciumnya. “Dulu aku pernah menyakitimu  karena surat ini, saat kita bertengkar aku merebutnya dari  tanganmu agar tidak dibakar dan aku berjanji untuk membakarnya sendiri, namun tanpa kamu ketahui aku tidak melakukan apapun terhadap surat ini, bahkan kusimpan pada tempat yang lebih aman agar tidak kamu temukan lagi.  Surat ini pernah sangat berharga bagiku, namun sudah tidak lagi, karena aku sangat mencintai dan menyayangi dirimu, aku minta maaf atas semua kesalahanku.” Ketika Renata  berdiri dan akan menyalakan   korek api secepat kilat aku merebut surat tersebut. “Jangan dibakar.., aku akan menyimpannya.” Entah mengapa  tiba-tiba  aku takut kehilangan surat yang pernah menyulut rasa cemburuku. Renata bengong melihat reaksiku, aku meraih tubuhnya,  lalu memeluk dan mencium keningnya sambil  berbisik “Sayang,  biarkan aku menyimpan surat ini, aku  sudah tidak cemburu  dan sakit hati lagi sebab aku tahu kamu sangat mencintai diriku”. Renata balik memeluk aku dengan erat,  air matanya menetes di pundakku, berkali-kali dia mencium kening dan pipiku. Aku tak mampu membendung  gejolak perasaan, tangisku  pecah dalam pelukannya, lama sekali aku memeluknya, rasanya tak ingin lepas. Terlintas dalam ingatan kemungkinan buruk yang  akan terjadi pada diri Renata,  aku sangat takut kehilangan dia. 

Lima hari  kemudian Renata meninggal dunia, separuh jiwaku hilang bersamanya  ke liang lahat, saat itu aku merasa berada pada puncak kehancuran, aku kehilangan pegangan hidup, yang tersisa hanya kepasrahan  pada Yang Maha Kuasa.   Sudah lima tahun  aku berkabung untuk kepergian Renata. 

Marni sahabatku yang baik,
Ketahuilah bahwa aku berteman  dan berusaha untuk akrab dengammu karena surat  cinta suamikku  ditulis untukmu. Dulu secara tidak sengaja aku menemukan surat tersebut di laci meja kerja Renata, aku sangat cemburu karena surat kumal itu masih disimpan dengan baik,  namun perlahan-lahan rasa cemburu itu  lenyap dibasuh ketulusan cinta suamiku . Tiga bulan yang lalu aku coba mencari namamu di facebook, ternayata kutemukan dan kamu menerima perimintaan pertemananku.  Setelah mengenalmu aku ingin sekali menyampaikan surat tersebut, surat yang tidak sempat diberikan oleh suamiku pada waktu kalian masih duduk di bangku SMA. Mungkin kamu cinta pertamanya. 

Berikut ini aku mengetik   kembali isi surat tersebut karena aslinya dalam  tulisan tangan dan kondisnya sangat   lusuh sehingga  sulit  dibaca.  
Semoga kamu mau menjadi teman baikku selamanya.

Salam persahabatan dariku,


Rina Ananda


Aku membaca surat Rina dengan berlinang air mata, sangat mengharukan.  Yah.. waktu SMA  aku punya teman bernama Renata Robertus tapi dia pacar teman akrabku. Mengapa dia menulis surat cinta untukku? Tanpa membuang waktu aku langsung membaca surat Renata untukku.


Asput, 28 April 1990

Marni yang baik,
Sudah  lama  sekali saya ingin mengungkapkan isi hatiku kepadamu namun   tidak punya keberanian karena  takut ditolak bahkan takut dimusuhi. Tanpa kamu ketahui saya  telah memendam perasaan ini  kurang lebih 3 tahun sejak kita masih duduk di kelas I SMA.

Pasti kamu kaget  ketika menerima suratku karena selama ini saya dekat  dengan  sahabat karibmu  Lola dan mengira saya  pacarnya.   Saya tidak pernah mencintai Lola, saya  mendekatinya karena ingin dekat denganmu.

Saya yakin kamu  tidak pernah tahu awal  perjumpahan kita, tapi saya tidak akan pernah lupa karena saat itu untuk pertama kalinya saya tertarik pada seorang gadis. Kita bertemu di warung samping kompleks asrama putri, ketika saya dan beberapa orang teman sedang nongkrong, tiba-tiba muncul 3 cewek yang hendak  berbelanja di warung tersebut, salah satunya kamu,  gadis berambut panjang dan memiliki mata yang indah.  Saya terus melirikmu tetapi kalian  tidak mempedulikan keberadaan   kami di sana.  Saya jadi penasaran dan   terus  berharap semoga suatu saat kita  bertemu  lagi.

Ternyata harapanku terkabul,  saya kegirangan ketika melihat kamu hadir pada apel perdana  tahun ajaran baru  sekolah kita. Kamu berada di deretan  kelas I-A sedangkan saya di deretan  kelas I-C. Sejak itu saya  terus memperhatikanmu, dan berusaha untuk mendapat  seorang teman akrab di kelasmu agar  setiap hari saya  bebas masuk dan keluar kelas tanpa ada yang curiga. Akhirnya saya bisa akrab dengan Lola sahabat karibmu, kalau dipikir lucu juga entah mengapa saya tidak berani  menjadi temanmu. Jantungku selalu bergetar bila melihat senyum manismu saat  menghampiri Lola. Ingin sekali bisa mendekatimu namun saya kehilangan nyali, kamu seorang gadis pendiam, tertutup dan very cool, sulit sekali  menebak isi hatimu,  rasanya harus berpikir 1.000 kali untuk melalkukannya. Tidak heran kalau kamu tidak memiliki pacar. Saya pernah  bertanya pada Lola, apakah kamu memiliki  pacar, kata Lola kamu tidak ingin punya pacar mungkin akan masuk biara. Wah... gawat kalau sampai masuk biara.  

Naik ke kelas II saya kembali berharap semoga kita memilih  jurusan yang sama, ternyata kamu masuk jurusan Fisika dan saya Biologi. Tak mengapa karena kita akan sering praktikum bareng dan  saya masih punya kesempatan untuk dekat denganmu walau keberanian yang kumiliki   cuma pada  jarak 2 meter dari dirimu. Saya selalu gugup bila terlalu dekat dengamu.

Mungkin kamu lupa waktu murid kelasku dan kelasmu  sama-sama diminta untuk terlibat dalam acara pesta di rumah guru Biologi kita, saya  memberimu sebuah Alpokat yang baru jatuh dari pohon.   Waktu buah itu jatuh ramai-ramai diperebutkan karena rasanya sangat enak dan saya  berhasil mendapatkannya. Hampir semua teman cewek  meminta buah tersebut padaku keculi kamu,  namun   tidak kuberikan  kepada siapa pun, kusembunyikan buah tersebut di saku celana panjangku dan saat pesta bubar diam-diam saya memberikan buah tersebut kepadamu. Bahagia sekali ketika kamu mau menerimanya karena untuk pertama kali saya bisa  memberikan sesuatu pada gadis pujaanku.

Sejak kelas I SMA saya rajin ke asrama putri  untuk betemu Lola, banyak yang mengira Lola kekasihku,   mungkin kamu juga berpikir demikian. Lola bukan kekasihku, kami hanya teman  biasa, saya mendekatinya agar bisa dekat denganmu, namun sayang setiap kali saya  mendekati kalian berdua kamu selalu menghindar dan memberi kesempatan kepada kami untuk berduaan. Saya terus berharap semoga Tuhan memberi kesempatan kepadaku untuk bisa jalan bersamamu, akhirnya kesempatan itu datang juga.  Waktu Lola sakit kamu memintaku untuk bersama-sama mengantarnya ke dokter. Betapa girang hatiku.  Jantungku terus bergetar saat duduk bersama di mobil angkutan kota, puas rasanya menatap wajahmu ketika matamu melempar pandangan ke tempat lain. Diam-diam hatiku menjerit, "Oh Tuhan.... mengapa saya  hanya sanggup membisu   sedangkan wanita pujaanku  tepat berada di depanku".  Saat menunggu antrian dokter saya sengaja mengambil tempat duduk  di sampingmu  agar bisa ngobrol walau hanya  sekenanya saja karena saya  gugup dan bingung setiap kali membuka pembicaraan, rasanya seperti seorang anak kecil yang sedang belajar berbicara.   Saya terkejut ketika kamu mau meladeni   pembicaraanku bahkan bisa diajak becanda ketika perasaan gerogi itu lenyap. Dan semakin jatuh cinta melihat matamu berbinar saat kamu tersenyum dan tertawa mendengar ceritaku. Ternyata kamu tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, seorang wanita cool yang sulit diselami isi hatinya.

Marni,
Saya sangat menyesal karena   tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatiku.  Sebentar lagi kita akan menyelesaikan pendidikan di  SMA, rasanya belum terlambat bila saat ini saya memiliki sedikit keberanian untuk menyampaikan perasaan cintaku via surat yang sangat berharga ini  “SAYA SANGAT MENCINTAIMU dan TERIMALAH SAYA SEBAGAI PACARMU”

Saya menunggu jawabanmu dan berharap semoga kamu tidak menolak cintaku.


Salamku selalu


Renata Robertus


Aku sempat tertegun setelah selesai membaca surat Renata, sepucuk surat cinta yang tidak penah disampaikan kepadaku. Mungkin karena takut ditolak.  Surat Renata mengingatkan kembali masa-masa indah waktu di SMA. Rekaman wajahnya seakan terpampang  lebar di hadapanku, seorang pemuda berkulit putih, tinggi dan bertubuh tegap. Memiliki wajah yang manis dan selalu melempar senyum yang sangat mempesona, baik hati dan penuh perhatian pada Lola. Renata juga memiliki segudang bakat, pandai bermain musik, pelukis dan seorang pemain volly yang handal. Dulu aku mengira Renata pacar Lola karena rajin menemui Lola di sekolah dan asrama, juga sepintas aku dapat membaca kalau Lola mencintainya. 

Semasa  SMA aku termasuk cewek yang sangat cuek pada cowok yang ingin mendekatiku, hanya satu yang ada dalam pikirankku yaitu belajar dan naik kelas/lulus mengingat otakku tidak terlalu encer  sehingga harus belajar lebih tekun dibanding teman-teman lain, juga hampir setiap ada kesempatan selalu diwanti-wanti orang tua agar tidak menyia-nyiakan pengorbanan mereka yang hanya berpenghasilan pas-pasan.  Bagiku memiliki pacar hanya menyita waktu dan menguras pikiran.  Namun kuakui  kalau sebenarnya aku juga pernah mengagumi Renata, bahkan diam-diam menyukainya tapi perasaan itu kupendam di lubuk hati terdalam karena aku tak ingin menyakiti  Lola.  Aku ingat buah Alpokat yang diberikan Renata kepadaku,  bahagia sekali  saat menerima  buah tersebut, tidak kuceritakan pada siapapun termasuk Lola sahabat karibku, saking sayangnya pada buah tersebut sampai tidak tega untuk dimakan dan akhirnya membusuk karena disimpan.  Laki-laki pertama yang pernah aku kagumi dan diam-diam telah mengisi alam khayalku adalah Renata. Surat cintanya tak pernah kuterima sampai tamat SMA dan terus disimpan sampai ajal menjemput.   Mungkin ini yang namanya takdir. Kembali  air mataku menetes, Renata telah pergi untuk selamanya. 

Minggu, 25 November 2012

Selamat Berpisah Kalang Maghit














 Oleh : Agnes Purnama Ndendong



Awalnya cerita tentang Kalang Maghit aku dengar dari mulut teman-teman Dinas Kehutanan yang sudah pernah bertugas kesana dan aku menanggapinya dengan biasa-biasa saja mungkin karena yang menceritakan kurang menggebu-gebu untuk menarik minatku atau karena aku sendiri yang kurang berminat mendengar cerita tersebut.
             Berkali-kali aku diajak untuk berkunjung namun ada saja halangan dan keengganan sehingga gema Kalang Maghit timbul tenggelam dalam ingatan dan minatku. Apalagi bila mendengar keluhan teman-teman yang tubuhnya pegal-pegal setelah kembali dari Kalang Maghit akibat akses jalan yang sangat memprihatinkan.
          Selain cerita teman-teman, aku juga tahu tentang Kalang Maghit dari data Dinas Kehutanan baik dari sektor peternakan maupun kehutanan dan perkebunan yang seluruh pengolaannya sudah diserahkan kepada Dinas Kehutanan Kabupaten Manggarai. Melihat data-data tersebut tersirat dalam benakku untuk melihat langsung, seperti apakah dia ? Waktu terus berlalu seiring dengan rasa penasaranku yang belum kesampaian akibat rutinitas kantor yang tidak bisa ditinggalkan.
          Terjawab sudah angan-anganku ketika diajak teman untuk melakukan monitoring pelaksanaan kegiatan pembersihan lahan dan pemangkasan tanaman Jati Emas dan Jati Super. Aku menyambut ajakan itu dengan sangat antusias walau ada yang meragukan kelancaran perjalanan kami karena menurut mereka medanya cukup berat, bagiku yang penting niat ke Kalangmagit tercapai. Semangatku bertambah tatkala mengingat sebentar lagi dia bukan milik kita dia akan menjadi milik orang Manggarai Timur. Bahagia campur haru menyatu dalam dada, aku akan melihat Kalang Maghit untuk pertama dan mungkin untuk terakhir kali.
              Tepatnya tanggal 4 Agustus 2007 pagi kami berangkat ke Kalang Maghit, sebelum berangkat rombongan berkumpul di kantor Dinas Kehutanan. Rencana keberangkatan agak molor akibat kendaraan yang akan mengantar kami belum tiba di tempat. Sambil menunggu mobil Paroli yang merupakan kendaraan andalan Dinas Kehutanan khusus pada jalan bermedan berat aku memeriksa semua barang bawaan. Ransel kecilku sudah terisi penuh, ada topi dingin, selimut, pakaian ganti, sikat gigi, odol, sabun, senter, permen, obat sakit perut, autan serta tak lupa obat antimo karena mabuk kendaraan suka kumat. Isi ranselku cukup untuk bisa nginap semalam di Kalang Maghit.
         Kami meninggalkan Kota Ruteng pukul 8.30 pagi. Mobil Patroli melaju cepat mengingat kondisi jalan Wae Lengga - Kalang Maghit tidak semulus Ruteng – Wae Lengga sehingga kalau berjalan santai ada kemungkinan kemalaman di jalan. Akibat sopir memacu kendaraan terlalu cepat perutku menjadi mules dan sesak, rupanya penyakit lama mulai kumat padahal sudah menelan satu butir obat antimo. Seorang teman meminta sopir untuk menghentikan kendaraan bila melihat pohon jambu biji di pinggir jalan. Katanya mabukku akan hilang kalau sudah mengkonsumsi buah jambu muda atau pucuk daun jambu. Rupanya pohon jambu di sepanjang jalan belum ada yang berbuah sehingga hanya pucuk daun jambu yang kami dapat. Kalau bukan karena sakit aku lebih memilih untuk tidak memakannya, aduh ....pahitnya minta ampun, tapi apa boleh buat demi niatku ke Kalang Maghit.
            Pukul 11 siang kami tiba di Wae Lengga. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Kalang Maghit kami sempat beristirahat di rumah seorang .kenalan. Kehadiran kami disambut dengan sangat ramah. Saat sedang melepas lelah di teras depan ibu pemilik rumah muncul membawa kopi panas plus ubi tese. Sang pemilik rumah yang baik hati sangat tahu apa yang kami inginkan, membuat semua pegal-pegal hilang seketika dan perut yang mulai keroncongan terisi penuh.
             Setelah beristirahat selama kurang lebih 45 menit di Wae Lengga kami melanjutkan perjalanan. Keluar dari Wae Lengga memasuki wilayah Desa Gunung jalannya berbatu dan berdebu. Kalang Maghit berada di wilayah Desa Gunung Kecamatan Kota Komba. Melewati perkampungan terakhir aku sempat tertegun melihat hamparan padang sejauh mata memandang. Di kiri kanan jalan berjejer pepohonan yang didominasi oleh pohon Kedondo dan pohon Gamal. Ada juga pohon Jati namun jumlahnya sangat terbatas. Pada beberapa tempat terdapat hamparan Jambu Mete. Lahan Desa Gunung belum didikelola secara maksimal, mungkin karena perbandingan antara jumlah penduduk dan luas wilayah yang tidak signifikan. Hal ini terlihat dari pemukiman pendududk yang masih sangat sedikit di sepanjang jalan, lebih didominasi oleh lahan kosong yang belum digarap.
          Walaupun jalan berbatu dan berdebu perjalanan menjadi nikmat karena disuguhi pemandangan yang sangat menarik dari segala penjuru. Terlihat nun jauh disana Gunung Ebulobo dan hamparan pegunungan Kabupaten Ngada berdiri kokoh menunjukkan keperkasaanya, pantai Aimere dan pantai Wae Lengga memamerkan kemolekannya. Di kiri kanan jalan tampak beberapa kelompok hutan dengan populasi tanaman yang terbatas menghiasi perbukitan dan lembah yang diselimuti padang ilalang, turut melengkapi kekaguman kami.
          Di pertigaan menuju kampung Lete mobil patroli mengambil jalan ke arah kanan melewati jalan tanah yang baru dirintis. Kami mengambil keputusan untuk tidak melewati kampung Lete karena waktu tempuh akan lebih lama 1 jam. Debu megepul ke udara ketikan mobil patroli melaju cepat, aku memperketat lapisan penutup kepala dan hidung agar terhindar dari polusi debu. Untung kami meliwati jalan tersebut saat musim kemarau sehingga perjalanan lebih mulus, seandainya dilewati saat musim hujan perjalanan akan lebih lama karena pada beberapa lokasi terdapat kubangan lumpur yang sulit dilewati. Ketika kendaraan mulai memasuki medan yang cukup berat aku berpegangan kuat pada besi yang melitang di belakang tempat duduk. Mobil patroli sempat berhenti. Kondisi jalan sangat jelek sehingga seluruh rombongan harus turun dari kendaraan. Mobil perlahan merayap menaiki pungung jalan yang agak menanjak dan rusak berat, beberapa kali usahanya sia-sia. Aku merasa ngeri melihat moncong mobil terangkat seolah-oleh akan salto ke belakang. Sambil menunggu kendaraan yang sedang berjuang melewati jalan jelek, aku bersama seorang teman cewek melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Lambaian daun ilalang menebar aroma segar mengiring derap napas kami yang mulai ngos-ngosan akibat kelelahan berjalan kaki. Nun jauh di dasar lembah yang tidak curam tampak seekor sapi liar memandang seakan ingin menyapa selamat datang di wilayah Desa Gunung. Setelah beberapa menit berjalan kaki terdengar suara mobil mendekat, aku merasa lega karena bisa melanjutkan perjalanan ke Kalang Maghit. Mobil pateroli kembali melaju cepat, kepulan debu terus menemani perjalanan panjang kami. Wajah yang mulus terus dilapisi debu yang semakin tebal.
        Tiba di pertigaan kampung Ritapada kembali kami mengambil keputusan untuk memilih jalan pintas, kami tidak melewati kampung tersebut karena waktu tempuh akan lebih lama ½ jam. Dari kejauhan terlihat berjejer kampung Mokorita dan kampung Ritapada yang turut meramaikan keheningan alam Desa Gunung.
           Aku merasa senang ketika meliwati sebuah sungai kecil yang airnya jernih. Sungai itu bernama Wae Ular, entah karena ada banyak ular di hutan sekeliling sungai tersebut atau sekedar diberi nama. Kendaraan berhenti tepat di tepi sungai, rupanya saat itu sedang ada perburuan rusa. Para pemburu meninggalkan seonggok kayu yang sedang menyala di tepi sungai. Bagi pemburu sungai merupakan tempat strategis dalam berburu rusa karena binatang tersebut suka mengunjungi sungai guna melepas dahaga. Gemercik air menarik hasratku untuk melangkahkan kaki dan menikmati kesegaran Wae Ular. Kubasuh wajahku perlahan menghilangkan debu yang telah menyatu dengan kulit. Kesejukan air sungai terasa mengalir ke sekujur tubuh turut menyapu lelah dan kepenatanku setelah melakukan perjalanan panjang.
           Aku merasa cukup segar ketika mobil pateroli kembali melaju meninggalkan sungai Wae Ular. Selang beberapa menit kendaraan kami dihentikan oleh seorang bapak dan istrinya yang sedang hamil, juga bersama mereka seorang anak laki-laki yang masih berumur kurang lebih 5 tahun. Kami mengijinkan mereka menumpang mobil Patroli karena tidak ada kendaraan lain yang akan melintasi jalan tersebut. Aku sempat tertegun ketika ibu itu bercerita kalau mereka baru pulang dari Aimere untuk menjual lombok hasil panen dari kebun. Berangkat dari Wae Lengga pukul 8.00 pagi dan saat itu sudah pukul 14.30, jarak yang telah ditempuh dari Wae Lengga sampai tempat pertama kali kami bertemu kurang lebih 27 km. Luar biasa bhatinku. Seorang ibu hamil telah berjalan kaki melintasi padang ilalang dibawah teriknya matahari hanya untuk menjual lombok dengan hasil penjualannya cuma Rp. 20.000,-. Perjuanagan hidup orang kecil yang jauh dari ingatan kita. Kalau direnung hidup ini sebenarnya tidak adil, ada yang mudah mendapatkan dan mudah pula menghabiskan uang dalam jumlah banyak hanya untuk kesenangan sesaat yang tidak berguna, sementara ada yang harus mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan sesuap nasi.
          Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 sore, mobil patroli akan memasuki areal pegembangan Kalangmaghit. Dari kejauhan terlihat hamparan hutan jati yang sangat luas, sungguh luar biasa ternyata sehebat itu kah Kalangmaghit? Ketika mobil memasuki areal pengembangan Jati Emas kami sempat terkagum-kagum melihat deretan tanaman jati berdiameter 7 cm tumbuh subur, ditata rapih dengan jarak yang sama sungguh indah dipandang mata.
          Kedatangan kami disambut gembira oleh petugas teknis dan para pekerja yang saat itu sedang bekerja menebas rumput dan memangkas cabang pohon jati. Jumlah pekerja cukup banyak lebih dari lima puluhan orang. Kedatangan kami memang bertujuan untuk memonitoring perkembangan hasil pekerjaan mereka. Setelah berbasa basi dengan para pekerja kami diajak ke pondok kerja Dinas Kehutanan untuk beristirahat sambil menikmati suguhan kopi panas dan ubi rebus pulus sambal pedas.
       Harumnya aroma Kalang Maghit membangkitkan hasrat untuk melanjutkan niat menyisir seluruh wilayah pengembangan. Perjalanan dimulai dari lahan yang ditanami kayu mahoni berumur 3 tahun, luasnya 24 Ha (23.215 pohon), kemudian menuju lahan jati emas berumur 4 tahun seluas 2 ha (3.050 pohon) dan 5 tahun seluas 8 Ha (13.017 pohon) merupakan buah karya rekan kami tercinta Almarhum Bapak Aman Anselmus, semoga jasamu akan selalu dikenang. Selanjutnya ke lahan jati emas berumur 6 tahun seluas 12 Ha (18.187 pohon) yang merupakan jati pertama hasil pengembangan Dinas Kehutanan Kabupaten Manggarai. Semua tanaman Jati Emas tumbuh subur dan tertata rapih dalam satu hamparan, kami sempat ramai-ramai berpose di bawah pohon jati, bahkan ada teman yang minta untuk difoto saat lagi memangkas dahan jati. Yah.... hitung-hitung buat kenangan kalau kabupaten Manggarai Timur sudah berdiri sendiri.
          Rombongan terus mengililingi wilayah pengembangan Kalang Maghit, langkah sempat terhenti ketika memasuki hamparan tanaman perkebunan seluas 52 ha, tak ketinggalan tanaman Mangga, Rambutan, Durian dan Jambu Mete turut melengkapi areal pengembangan Kalang Maghit. Sungguh..... seperti dalam cerita dongeng, ada taman firdaus di Kalang Maghit. Sayangnya saat itu belum musim buah. Kata teman Mangganya sangat manis dan kalau berbuah lebatnya minta ampun. Sudah bisa saya bayangkan kalau Mangga itu berbuah pasti ada yang sampai berjuntai ke tanah karena pohonnya tidak tinggi.
Di ujung lokasi pengembangan tanaman perkebunan ada perkampungan kecil, penduduknya sudah menetap selama puluhan tahun dan bermata pencaharian sebagai petani. Lahan garapan mereka berdampingan dengan lahan Pemda.
           Setelah melewati perkampungan kecil kami berpapasan dengan sebuah traktor besar yang baru pulang mengangkut air, bak belakang penuh cerigen air. Yang menyetir traktor pak Frans Moni, walaupun sudah manula dia sangat lincah meneytir traktor. Traktor yang ada di Kalang Maghit berfunsi ganda, selain untuk menggarap lahan juga sangat membantu petugas dan para pekerja dalam mengangkut air minum karena sumber air cukup jauh dari tempat tinggal mereka.
            Ketika memasuki lahan pengembangan Jati Super aku sempat terpesona, ternyata masih banyak harta yang terpendam di Kalang Maghit. Tanaman Jati Super tumbuh subur, dengan dimeter kayu sudah mencapai 7 cm seluas 20 ha (2.945 pohon), namun sayang saat itu gulmanya belum dibersihkan sehingga kelihatan kurang terawat. Kata Pa Herman pembersihan gulma dan pemangkasan tanaman Jati Super akan dilaksanakan setelah para pekerja menyelesaikan pembersihan gulma dan pemangkasan cabang di lahan Jati Emas. Kedua pekerjaan tersebut tidak bisa dilakukan secara serempak karena keterbatasan jumlah tenaga kerja. Sulit mendapatkan tenaga kerja di Kalang Manghit, banyak yang hanya datang sebentar kemudian pergi karena tidak betah.
            Di ujung lahan pengembangan Kalang Maghit berjejer bangunan yang tertata rapih, namun sayang kondisinya sangat memprihatinkan karena sudah lama tidak ditempati oleh para petugas. Mereka lebih memilih tinggal di pondok kerja karena letaknya lebih strategis. Dasar orang hutan lebih suka tinggal di gubug.
      Setelah melihat-lihat bangunan kami melanjutkan perjalanan menuju tempat persemaian bibit Mahoni. Bibit tersebut akan digunakan untuk mengganti tanaman mahoni yang mati di lokasi penanaman. Dekat tempat persemaian ada bak air yang merupakan sumber air minum, mandi, cuci dan menyiram tanaman saat musim kemarau. Airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.
            Karena hari mulai gelap rencana ke Rens Sapi dibatalkan. Kami memutuskan untuk kembali ke pondok kerja melewati hamparan lahan Jambu Mete dan lahan Mahoni. Semua tanaman tumbuh subur dan tertata rapih. Menurut informasi pak Herman total seluruh ternak sapi di Kalang Maghit sebanyak 33 ekor (19 ekor induk sapi dan 14 ekor anak sapi).
         Malam panjang di Kalangmaghit kami habiskan dengan ngobrol bersama para pekerja. Suasananya sangat ramai dan penuh akrab. Mereka bukan pekerja tetap, bila musim kerja tiba baru mereka datang, malah sering gonta ganti orang karena banyak yang tidak betah dan jatuh sakit. Pekerja tetap di Kalang Maghit hanya petugas teknis Dinas Kehutanan. Saat itu ada pekerja yang tidak bisa nimbrung bersama kami karena sudah dua hari menderita sakit, keesokan pagi akan diantar ke kampung Lete oleh beberapa orang temannya. Tidak ada kendaraan umum yang masuk ke Kalang Maghit, yang ada cuma ke Lete, itu pun jadwalnya hanya seminggu sekali yaitu setiap hari Rabu. Pada waktu areal Kalang Maghit baru dibuka kondisinya lebih parah, sempat seorang petugas teknis jatuh sakit, ditandu dari Kalang Maghit sampai Wae Lengga, sungguh sangat memprihatinkan. Ini mungkin PR yang perlu diselesaikan oleh Kabupaten Manggarai Timur yaitu membangun Puskesmas Pembantu di Kalang Maghit mengingat aset Kalang Maghit butuh para pekerja yang tangguh dan sehat untuk menjaga dan merawat Sang Primadona yang pasti akan bersinar. Kabupaten Manggarai telah menyiapkan harta yang melimpah untuk adiknya Kabupaten Manggarai Timur guna meningkatkan kesejahteraan anak cucunya. Yang penting dijaga dan dikelola dengan baik agar semuanya tidak sia-sia. Obrolan kami terhenti oleh mata yang mulai meredup, satu persatu pergi ke pembaringan tinggal teman-teman yang ingin menghabiskan malam panjang dengan bermain kartu.
             Ketika mobil Patroli akan beranjak meninggalkan Kalang Maghit, ada perasaan aneh mengusik hati bahagia campur sedih, mungkin karena akan kehilangan sesuatu yang pernah aku kenal dan aku kagumi. Aku cuma sanggup melambaikan tangan ”Selamat berpisah Kalang Maghit, walaupun engkau akan menjadi milik Kabupaten Manggarai Timur kami akan tetap merasa bangga karena kamu pernah menjadi bagian dari Kabupaten Manggarai”.