Kotaku yang indah menghiasi kaki Pegunungan Taman Wisata Alam Ruteng

Selasa, 03 September 2013

Pelabuhan Hati



 

Oleh : 
Agnes Purnama Ndendong 



Di sawah terlihat ibu-ibu memasukkan semaian  ke  dalam kubangan  lumpur, nampak  seperti sedang membawakan tarian menanam padi, indah sekali.    Beberapa dari mereka  sambil menguyah sirih,  sesekali membuang ludah yang telah bercampur sirih ke samping  lalu terus menancapkan semaian  ke  dalam perut bumi, tak peduli teriknya sinar matahari.

Gemercik air jernih dari saluran irigasi terdengar sampai telinga, terasa segar dan menyejukan jiwa. Hamparan sawah membentang luas membentuk jaring laba-laba. Suatu pemadangan elok nan asri.  

Aku menikmati   dari teras pondok milik tante Marta seorang janda tua yang lama ditinggal mati suaminya.  Ikut tante Marta ke  sawah merupakan rutinitas  saat liburan. Terkadang  sendiri mencari  sepi sambil menikmati  panorama alam. 

Sudah lima  tahun aku mengabdi sebagai petugas medis di Desa tante Marta. Sebuah desa yang  jauh dari keramaian kota dengan akses jalan yang sangat memprihatinkan.  Bukan dibuang  tetapi atas  kemauan sendiri.  Kedua orang tua pun sangat tidak setuju, namun  aku memiliki alasan khusus yang tidak pernah kuceritakan kepada siapapun.  Ingin bertemu Randy, seseorang yang  dekat di hati namun jauh di mata. Setelah pertengkaran hebat enam tahun yang lalu Randy menghilang. “Entah dimana adamu, aku hanya tahu kau hanya menghadirkan getaran-getaran indah yang kuubah menjadi bahagia. Tak ada khabar yang kuterima, selain bisikanmu yang kutemui pada sisa mimpi setiap malam. Mengapa gelisah dan rinduku tak pernah mati? Kutunggu khabarmu yang masih diam, apakah engkau baik-baik saja?” Jerit hatiku.

“Kak Yanti ngelamun ya?   Ayo kak,  kita siapkan  makan siang.” Sebuah suara mengejutkan aku, lamunan mendadak buyar.

“Oh.. ia siska,”  aku buru-buru beranjak lalu  masuk ke dalam pondok untuk menyiapkan makanan. 

Teras pondok telah penuh ibu-ibu yang sedang melepas lelah. Ada yang mengipas-ngipas tubuh sambil  direbahkan  ke  dinding dan sebagian berebutan  air untuk melepas dahaga.   Aku dan siska  sibuk menyiapkan makanan.  Nikmat sekali walau  hanya hidangan sederhana  yaitu nasi, sayur lomak dan ikan  tembang asin.  Bagiku berkumpul bersama orang-orang kampung memiliki kebahagian tersediri, sangat dihargai dan disayangi, ingin rasanya tetap berada diantara mereka.

“Minggu depan pak Markus dan ibu merayakan pesta emas pernikahan.” Suara tante Tina   mengundang perhatian ibu-ibu yang sedang makan.

“Wah.. pasti pestanya meriah,” sahut tante Marta.

“Ia, dan semua  anak-anak  sudah sukses.” Lainnya tak mau ketinggalan.

“Hebat ya,” seperti dikomando beberapa ibu  berkomentar.

“Apakah semua anak akan hadir? Apakah Randy juga?”  mendadak pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam benakku.

Sejak mendengar informasi  rencana syukuran keluarga Randy hatiku terus   gelisah, kurang  konsentrasi dan sering  ngelamun, seperti sedang mengidap penyakit jiwa ringan. Malamku berganti malam yang menghimpit mengganggu tidur.

“Akhir-akhir ini kamu sering ngelamun Yan.” 

“Ttiiidak kok.” Mengelak dengan sedikit gugup saat ditegur Cristin teman sekerjaku.

“Kamu kehilangan keceriaan, ada apa Yan ?”   Cristin  tak mau kalah.

“Sedang  kurang sehat.”

Rasa gelisah  kian bertambah ketika mendengar semua anak-anak pak Markus telah berdatangan   karena acara syukuran tinggal satu  hari lagi.  Kebiasaan  nongkrong depan teras rumah sambil bercengkrama bersama  para ibu dan anak-anak kampung mendadak lenyap. Aku memenjarakan diriku sendiri dalam bilik  sempit nan sederhana di sebuah rumah dinas Puskesmas Pembantu yang  hanya berjarak 100 meter  dari rumah Randy.  Keramaian di luar  tidak kuperdulikan.

Tiba-tiba  Siska mengetuk pintu kamar dan memanggilku “Ka Yanti, ka Yanti....  buka pintunya.” Aku diam saja sambil membhatin “ngapain sih  Siska gangguin  aja”. Dengan sangat berat aku membukakan pintu. Wajah Siska nampak serius dan cemas.

“Ada apa Siska?” aku jadi penasaran, “Kakak  di minta ke rumah Om Markus, istrinya sakit.”  Duniaku terasa  runtuh, kepala mendadak pening,  lutut terasa ngilu.

“Mengapa wajah kakak pucat? kakak sakit?” Siska menatapku cemas. “Tidak, cuma kurang tidur, tolong ambilkan air putih.” Aku merebahkan tubuh di sebuah kursi kayu   sambil berusaha memulihkan perasaan.

Setelah semua peralatan medis kumasukkan ke dalam tas lalu bergegas menuju  rumah pak Markus. Langkah yang biasanya ringan terasa  berat,  perasaan tak karuan kian berkecamuk,  sedang ada pergulatan di sana.

 “Cepat bu, penyakit mama  kambuh.”  Sebuah suara menyuruhku  bergegas.  Secepat kilat aku menemui istri pak Markus di kamar, rasa gugup  hilang seketika.

Wanita itu berbaring lemas, aku memeriksa  kesehatannya dengan sangat   teliti mengingat sebentar lagi dia akan merayakan hari kebahagiaan, jangan sampai   absen  pada acara  tersebut.

“Bagaimana kondisi ibu nak  Yanti?” Pak Markus bertanya cemas.

“Ibu tidak apa-apa, cuma kecapean, perlu istirahat yang cukup.”  

“Syukur kalau begitu.”  Wajah pak Markus  kembali ceria.

Aku  hanya memberikan beberapa butir  vitamin  pemulihan tenaga.    

“Sebaiknya ibu istirahat saja di kamar,”  kami meninggalkan istri pak Markus lalu pindah ke ruang tamu.

“Aku pamit pak.”

“Minum dulu bu.”  Seorang wanita cantik muncul membawakan beberapa cangkir kopi panas, baru kulihat wajahnya, mungkin salah satu menantu yang datang dari Jawa.

“Aduh, maaf merepotkan,”  aku sedikit risih berada diantara anak dan menantu pak Markus.

“Tidak kok.”  Wanita itu berkata ramah. 

Saat sedang menikmati kopi tiba-tiba sebuah suara muncul dari pintu depan  “Sore  semuanya.” Aku menoleh, laki-laki itu sangat tidak asing, matanya yang bulat besar terpaku padaku seperti tak  percaya dengan apa yang sedang dilihat. Semua kegirangan menyambut kedatangannya. “Akhirnya kamu pulang nak, kami sangat merindukanmu,” pak Markus   menangis sambil memeluk laki-laki itu.

“Ini Randy, anak ketiga saya yang bekerja di Papua,” Pak Markus memperkenalkan Randy padaku, namun wajahnya dingin tanpa ekspresi, dia mengulurkan tangan seperti terpaksa, aku pun menerimanya dengan kecut. Buru-buru  kuhabisi   kopi yang masih tersisa lalu pamit pulang.  Pikiranku semakin tak karuan, “mengapa dia tidak menyapaku, atau melemparkan sebuah senyuman?  Wajahnya  tidak bersahabat, apakah dia membenciku?”  Bhatinku miris. 

Keesokan hari hampir seluruh warga kampung sibuk di rumah  pak Markus, bergotong royong mempersiapkan acara yang telah dinanti-nantikan.     Aku enggan terlibat,  tidak ingin bertemu Randy, rasa benci mulai tumbuh dalam hati.  Ada penyesalan luar biasa, enam tahun merindukannya ternya tidak diperdulikan. Dadaku terasa remuk,  suara musik  dari rumah pak Markus seakan turut mensayat-sayat hatiku. Aku meratapi  nasibku,  seorang wanita bodoh yang telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Begitu banyak laki-laki yang telah kutolak, kutinggalkan orang tua, saudara dan teman  yang sangat mencintaiku    hanya karena  Randy.

“Yanti, Yanti...  buka pintunya.”  Sura tante Marta terdengar sayup, aku meringkuk di balik selimut  tebal. Tidak  kuperdulikan teriakan tante Marta, aku ingin sendiri tanpa siapa-siapa.

“Yanti... ayo buka pintunya nak.” Berkali-kali pintu kamar di gedor.

Dengan terpaksa aku membukakan pintu, mataku sembab, tatapanku nanar,  aku khawatir tante Marta mencurigai keadaanku.

“Mengapa kamu nak?” Tante marta memperhatikan diriku yang  tidak seperti biasa.

“Matamu sembab dan  wajahmu pucat, kamu sakit?”  Aku hanya menggeleng. Tangan tante Marta mengusap wajahku.

“Sekarang kamu mandi, sebentar lagi misa syukur akan dimulai.” Aku mengangguk tak bersemangat.

Sebenarnya aku tidak ingin hadir dalam acara itu, namun  kebaikan pak Markus dan istri meghilangkan semua kebencian dan kegalauanku.

Aku mengambil tempat duduk di pojok belakang, tante Marta mengajakku ke depan namun kutolak. Para undangan berdatangan, baik dari kampung mapun  kota, hampir seluruh tempat duduk terisi penuh. Keluarga besar pak Markus  diberi  tempat khusus . Lengkap semuanya mulai dari yang sulung sampai bungsu dengan pasangan dan anak masing-masing. Sebelum misa dimulai aku asyik memperhatikan mereka satu persatu.  Hanya Rendy dan seorang suster yang tidak berpasangan. Dia kelihatan sedikit gelisah, beberapa kali berdiri dan mondar mandir sambil melirik para undangan, seperti ada yang sedang dicari. Saat matanya tertuju padaku jantung  berdegup kencang, aku jadi salah tingkah, hanya sebentar  menatap tanpa senyum lalu kembali duduk. Mungkin  sedang memastikan kehadiranku.  Hatiku kembali bergejolak.

Ketika  MC mengantar para undangan ke acara santap malam bersama, aku pamit pulang. Mereka menikmati pesta yang meriah dengan hidangan beraneka macam, diiringi alunan musik lagu-lagu nostalgia dan pop terkini, namun semuanya tidak mempengaruhi hatiku yang kian  merana dan terpuruk.   

Sikap Randy  membuat aku ingin  cepat-cepat meninggalkan desa yang telah menjadi bagian dari hidupku.  Aku butuh suasana yang bisa menghilangkan  segala kekecewaan dan sakit hati,   sampai Randy kembali ke Papua.

“Cristin, saya ijin  selama 2 minggu, besok pulang ke rumah orang tua.”

“Ada keperluan apa Yanti?” Cristin menatap kaget.

“Urusan  penting, juga  butuh refreshing.”

“Yah.. sebaiknya begitu,  kamu kelihatan kurang sehat, saya akan menghandel semua pekerjaanmu teman.” Cristin meraih tanganku lalu digegam seakan ingin memberikan keyakinan.

“Terima kasih.” Aku memeluk Cristin  penuh haru.

Baru seminggu di rumah orang tua, muncul  sebuah sms dari nomor tak dikenal  “mama Marta sakit keras, sebaiknya ibu pulang.”   Awalnya ragu, mungkin ada yang sedang jahil, tapi rasa cemas terus merasuk. “Tante Marta sudah seperti orang tua sendiri, aku tak mau dia sakit, harus kusembuhkan”, bahtinku.

Buru-buru kuraih tas yang masih tergeletak di lantai kamar tidur, kumasukan semua pakaian dan barang  kebutuhan, jangan sampai ada yang tertinggal, lalu pamit  “mama, saya pulang ke desa  sekarang.” 

Mama sangat terkejut “katamu liburan dua minggu, sekarang baru  satu minggu”, perasaan kecewa tergambar di wajah wanita tua itu, iba hatiku melihatnya, mungkin belum puas melepas ridu.

“Ia ma, tante Marta sakit keras, saya harus pulang.” Kucium kedua pipinya lalu pergi.

Untung  bus terakhir belum berangkat, aku duduk pada deretan paling belakang. Perjalanan panjang dan melelahkan membuat seluruh tubuh terasa pegal, bayangan tante Marta terus  menari-nari dalam pikiranku, rasa cemas  kian merasuk. 

Saat memasuki perkampungan aku berpapasan dengan Siska anak tante Marta, wajahnya ceria seperti biasa, bahkan dia sangat gembira melihat kedatanganku. “Ka Yanti,  syukur kakak sudah pulang, saya  dan mama kangen.” Lalu memelukku  erat.

“Bagaimana keadaan  tante Marta?” Aku bertanya cemas.

“Mama baik, sekarang sedang ke  sawah.” Ternyata aku dibohongi  seseorang. Rasa lega dan kecewa berbaur jadi satu. “Siapakah yang telah mengirim sms itu”?  Sekejap semangatku hilang, langkah rapuhku mengalir, setapak demi setapak  menuruni jalan desa yang berbatu dan kelikir. “Saya telah ditipu.... saya telah ditipu....” Tangis hatiku.

Di rumah hanya mampir sebentar lalu ke sawah, ingin cepat-cepat betemu tante Marta. Jalan menurun dan menanjak menjadi tak terasa, hilang ditelan rasa kecewa  mendalam, “mungkin tante Marta tahu si pengirim sms, akan kuhajar orang itu” aku membhatin.

“Tante Marta, tante Marta....” Aku memanggil-manggil namun tak ada jawaban, hanya terdengar percikan air dan  kicauan burung. Hamparan sawah  memandangku bisu. Kuhempaskan tubuh di teras pondok, lalu duduk selojoran sambil menerawang jauh, melepas lelah dari kejenuhan.  Biarlah semua kuhadapi meski sukma tak rela. Aku harus tegar menghadapi walau bercucuran air mata.   

“Selamat sore”, tiba-tiba sebuah sura mengejutkan aku, jantungku bergetar,  tak percaya dengan apa yang baru  kulihat. Seperti melihat hantu di siang bolong. Aku diam, mulutku terkatup rapat, bibir  tak mampu digerakkan.

Randy menghampiriku, aku semakin gugup. Ingin rasanya mencari perlindungan, dalam balutan selimut tebal  di kamar sempitku. Aku hanya bisa menutup mata dan membenamkan kepalaku dalam-dalam diantara kedua lutut. Seperti seorang pencuri yang sedang ketakutan setelah kepergok warga.

“Yanti, Yanti... mengapa kamu seperti ini?” Randy mengguncang tubuhku. Entah mengapa pandanganku berubah  gelap lalu  tubuh roboh ke lantai. Randy panik dan kebingungan, berkali-kali   memanggil namaku sambil menggoncangkan tubuh yang terkulai lemas.

Setelah sadar kudapati tubuhku berada dalam pangkuannya. Randy tersenum lega, aku gerogi dan berusaha bangkit, namun tangan kokoh Randy tidak mebiarkan aku pergi  lalu  mendekapku erat-erat. Aroma keringat menusuk  hidung, baju kaosnya basah  penuh peluh. Perlahan  tetesan air mata  mengalir ke pundaku menembus sampai  relung hati. Tak percaya  Randy tangisi aku, rasa benci hilang seketika,  kubenamkan wajahku di dadanya, untuk mendapatkan kedamaian di sana.

“Jangan pergi dariku Yanti”, Randy berbisik lirih. Aku mengangguk pelan, Randy semakin erat memelukku. “Kamu yang mengirim sms itu?”  Randy diam, menatapku dalam-dalam. “Yah... aku yang melakukannya, aku rindu padamu.” Balik aku  memeluknya, kucium kedua pipi  lalu kening.  Hatiku tak mungkin membohongi jiwa, rasa rindu milikku pun ada untuknya.

Tiba-tiba  takut kehilangan Randy merasuk hati, mungkin esok atau lusa dia akan kembali ke Papua. “Kapan  pulang?” Mendengar pertanyaanku Randy  hanya tersenyum, aku bingung dan penasaran. Diraihnya tanganku lalu digenggam, “saya tidak kembali, kutambatkan bidukku di sini karena engkaulah pelabuhan hatiku”. Bersorak riang jiwaku, kuncup-kuncup bunga bermekaran di sana. Akhirnya Tuhan menyatukan kami kembali.    

Selasa, 25 Juni 2013

Merajut Cinta di "Bukit" Golo Curu






Oleh : 
Agnes Purnama Ndendong



“Ka Lino ngelamun ya?” Suara Nera mengejutkan aku yang sedang menyendiri di teras belakang rumah ditemani remang-remang malam.  

“Gak kok, lagi menikmati rembulan,” jawabku sedikit menipu.

“Lagi mikirin apa kak?” Nera tidak percaya, lalu meletakkan tangannya di pundakku. Perhatiannya luar biasa, syukur aku memiliki adik sebaik Nera.

“Kalau tidak ingin diganggu aku ke kamar dulu ya kak, tugas sekolah bu..a...nya....kkk.”  Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.   

Dingin udara kota Ruteng tidak mampu mengusir aku yang sedang terlena dalam lamunan panjang.

Sejak jumpah Wela di emperan toko Sejati membuat aku sangat merindukannya. Walaupun tidak secantik  dulu tetap istimewa dalam hidupku. Beban hidup dan kondisi ekonomi membuat kecantikanya memudar dan tidak terawat.  Ingin sekali aku membahagiakan hidupnya, mengeluarkan dari penderitaan.  Bukan karena ingin membalas budi orang tua  yang pernah sangat berjasa dan punya andil dalam kesuksesanku tapi aku benar-benar sangat menyayanginya.  

Aku dan Wela  sebaya, waktu kecil selalu bermain bersama dan mengerjakan apa saja bersama. Wela setia  disamping dan menghiburku bila dimarah bapaknya.  Mungkin karena sendiri  anak cowok diantara 3 cewek sehingga kenakalan kecil pun dianggap luar biasa, maklum Wela dan adik-adiknya sangat sopan dan penurut. 

Setelah usaha orang tuaku bangkrut ayahnya meminta aku tinggal bersama mereka agar tidak putus sekolah.  Ayah Wela  sepupu jauh ibuku dan kebetulan teman akrab ayahku. Ayah dan ibu tidak keberatan aku tinggal di rumah Wela karena mereka harus pulang kampung untuk mengurus  kebun Kopi  dan Cengkeh yang merupakan satu-satunya harta yang masih tersisa.

Banyak kenangan manis yang tak terlupakan bersama Wela dan selalu menjadi obyek keusilanku semasa kecil.

“Balap  yuk, yang kalah sebagian lauknya buat yang menang”. Sudah menjadi kebiasaan kami  sepulang sekolah saat masih di bangku SD. Letak sekolah kurang lebih 300 meter dari rumah.

“Tapi jangan curang, kemarin waktu saya duluan kamu pura-pura jatuh”. Wela mengingatkan aku sebelum mulai start.

“Okay teman... sekarang kita mulai”. Aku memberi aba-aba lalu  lari sekuat tenaga.

“Saya menang....!!!”  Aku kegirangan.  Setiap kali balap lari Wela selalu kalah karena aku punya banyak cara agar bisa unggul, jika Wela lebih cepat aku pura-pura jatuh dan saat Wela akan menolongku aku lari sekuat tenaga. Itu semua kulalukan demi lauk pembangkit selera makan. Hampir setiap makan siang lauk Wela cuma  separuh karena sebagian untukku. Wela tidak pernah marah atau membenciku bila dicurangi, anehnya aku merasa puas setelah melakukan itu pada Wela.

Aku telah membuat Wela menjadi sedikit tomboi, kuajak bermain bola, perang-perangan dan  menembak burung di kebun yang tak jauh dari rumah. Bahkan Wela pernah jatuh saat sedang mengejar burung dan kakinya terkilir.

“Wela kejar burungnya”, aku menyuruh Wela mengejar burung yang sedang sempoyongan setelah kutembak pakai katapel.

Wela berlari menuruni  bukit sambil tangannya menggapai  burung yang terbang rendah akibat terluka.

“Bukkk...” tiba-tiba jatuh dan terguling.

“Aduh... sakit.... tolong saya Lino”.  Secepat kilat aku menuju Wela,  tidak peduli semak dan dahan yang menghalangi langkah kakiku.    

Wela meringis kesakitan,  wajahnya berubah pucat. Aku panik dan cepat-cepat memeriksa kakinya.

“Kaki kananku sakit, mungkin terkilir”  Wela memijit pergelangan kaki dan coba berdiri dan melangkah.

“Sakit Lino, tidak bisa jalan”. Aku semakin panik takut kakinya patah.

“Sini kugendong”

“Tidak mau” Wela berotak ketika kucoba meraih tubuhnya.

“Kamu ingin tinggal di sini?” Aku sedikit emosi, akhirnya Wela pasrah, kugendong menaiki bukit menuju rumah, beberapa kali hampir jatuh karena postur tubuh kami sama. Sampai di rumah    aku disiksa bapaknya, berdiri satu kaki dan kedua tangan memegang telinga selama 1/2 jam.

Tamat SMP kami tidak bersama,  Wela dikirim ke sebuah SMA favorit di kota lain, sedangkan aku masuk SMA yang tidak jauh dari rumah. Jarak membuat aku selalu merindukannya, setiap akan liburan sekolah aku terus menghitung hari dan berharap waktu cepat bergulir agar segera bertemu Wela. Tidak seperi teman-teman lain yang memiliki  pacar, aku  selalu menghidar dari cewek-cewek  yang terus mencari perhatian bahkan ada yang tergila-gila padaku  karena memiliki wajah cukup tampan dan  otak yang cerdas. Cewek yang ada dalam pikiranku hanya Wela dan dia tidak pernah tahu. Walau tergolong cantik Wela pun tidak memiliki pacar.

Sejak ayahnya meninggal kehidupan keluarga Wela berubah total, harta yang dimiliki lenyap satu persatu karena ibunya tidak dapat  melanjutkan usaha ayahnya.  

Hidup ini memang ibarat roda berputar, ada kalanya di bawah lain waktu  di atas demikian pun sebaliknya,  nasib seseorang tidak ada yang tahu karena takdir digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Begitu juga dengan nasib keluargaku dan  keluarga Wela. Berkat kerja keras akhirnya ayahku dapat bangkit dari keterpurukan dan menjadi petani yang sukses, aku dibiayai ayah Wela hanya sampai tamat SMA,  ketika   akan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi ayah mengambil alih tanggung jawab sampai selesai kuliah dan sekarang tergolong sukses  di usia yang masih muda,  sedangkan Wela putus kuliah semester 4 pada faklutas teknik akibat tidak ada yang membiayai dan sekarang menjadi tulang punggung keluarga.   

“Wela..., tak tahu kah kamu kalau aku sangat mencintai dan menyayangi dirimu?” jerit hatiku. Kuambil gitar yang sedari tadi membisu di samping, kunyanyikan  sebuah lagu White Lion yang menggambarkan suasana hatiku You’re all  i need

 “Ka Lino..  sudah larut malam, ayo masuk.”

Di kamar aku sulit memejamkan mata, bukan karena udara dingin yang menusuk sampai ke  sum-sum tulang tetapi bayangan wajah Wela terus menari-nari dalam pikiranku.

Aku bangun kesiangan akibat telat tidur. Sisa liburan tinggal 2 hari lagi, aku tak mau membuang kesempatan bertemu Wela. Setelah sarapan langsung mandi dan bersiap-siap.

“Pak, aku pergi dulu ya.” pamit pada bapak yang sedang memberi makan ayam  di kandang belakang rumah.

“Kemana?”

“Ke rumah Wela”. Jawabku.

“Pantas  rapih sekali,”   bapak menggoda, kubalas dengan melempar senyum lalu menstater motor menuju rumah Wela.

Aku tertegun melihat rumah Wela yang semakin kusam dan tidak terawat, tempat aku dibesarkan selama 10 tahun, penuh kenangan manis yang tak terlupakan.

“Eh...  kak Lino.. kok bengong  di situ, ayo masuk kak”. Tiba-tida terdengar sebuah suara  dari samping rumah, adik Wela menghampiriku lalu membukakan pintu.

“Oh iya... makasih”, sedikit gerogi sebelum masuk ke ruang tamu.

“Mau cari kak Wela ya?” Aku hanya tersenyum.

Sambil menunggu wela aku membolak balik  album foto yang dibiarkan tergeletak di rak TV.  Mataku terpaku pada sebuah foto masa lalu, foto aku dan wela mengenakan seragam pramuka SD. Sangat jadul, kami difoto bapaknya setelah dibelikan seragam pramuka baru. Melihat foto itu aku jadi senyum-senyum sediri, ingat masa lalu,   bangga  memakai   seragam tersebut.

“Apa khabar Lino,”  suara yang tidak asing itu mengejutkan aku.

“Baaik...” agak gugup ketika Wela muncul dan mengambil tempat duduk tepat di depanku. Jantungku berdegup kencang. Aku merasa kikuk, untung ibu dan ketiga adiknya ikut nimbrung sehingga suasana menjadi cair dan penuh tawa.

“Kalau tidak keberatan aku ingin mengajakmu ke luar.”  Entah mengapa ide itu tiba-tiba muncul.

“Ke mana?”

“Ke Golo Curu.”

Wajah Wela memerah, sorot matanya penuh ragu, Wela melirik ibu dan adik-adiknya seakan ingin  meminta persetujuan.

“Pergilah.”   Ibu merestui dan adik-adiknya pun ikut mengangguk, aku kegirangan.

“Saya ganti baju dulu ya.”  Kujawab dengan senyum, sebuh senyum kemenangan  karena berhasil mengajak Wela pergi. Untuk pertama kali setelah 9 tahun tidak pergi berdua, terakhir kali kami pergi bersama waktu bapaknya meninggal,  mengantarnya ke terminal Umbulharjo  Yogyakarta menuju Denpasar.

Wela mengenakan kaus oblong abu-abu dan celana jeans, rambutnya dibiarkan terurai sebahu.  Walau tanpa make up paras cantiknya masih nampak. Jantungku terus bergetar sepanjang jalan menuju Golo Curu.

Di kaki Golo Curu aku memarkir motor. Wajah Golo Curu tidak banyak berubah, masih seperti yang  dulu, punggung bukit didominasi oleh semak,   pepohon  Ampupu dan sebagian kecil tanaman Kopi sedangkan pada tepian puncak nampak   kelompok rumpun    bambu.  Beberapa   pohon Ampupu  ditanam   di tengah puncak  dengan jarak yang cukup lebar agar tidak mempersempit pelataran tempat  umat berdoa dan   berfungsi  sebagai peneduh. Pada tebing kiri kanan jalan berderet  ukiran gambar kisah perjalanan Yesus ke Puncak Golgota, biasanya para pesiarah melakukan jalan salib mulai dari perhentian I sampai ke XIV.  Aku dan Wela tidak melalukan prosesi itu, kami langsung menuju puncak.  Walau pendakian tidak terlalu sulit  sempat membuat kami ngos-ngosan.

Setelah beristirahat sejenak kami  menuju Bunda Maria, menyampaikan ujud masing-masing.  Hanya satu  permintaanku saat itu,  memohon agar gadis yang ada di sampingku  menjadi milikku selamanya.  Ada kedamaian yang luar biasa saat sujud bersama orang yang sangat aku kasihi. 

“Oh Tuhan biarkan  dia selalu di dekatku.” Bisik  hatiku.

“Sudah selesai doanya?” Aku menghampiri   Wela yang telah selesai membuat tanda salib.  Wela bedoa cukup  lama dan khusuk, sedangkan aku sudah sejak tadi  menunggu.    Saya tidak terkejut melihat cara  Wela berdoa karena  terbiasa sejak kecil berkat didikan orang tua.

“Ia Lino, lama menunggu?”  Aku  menggeleng dan mengajak  Wela menuju tempat duduk yang telah dibangun secara permanen sepanjang tepian  puncak Golo Curu.

Kami duduk berdampingan sambil menikmati sajian alam ditemani semilir angin Golo Curu.  Nun jauh di sana  nampak jejeran pegunungan Taman Wisata Alam Ruteng berdiri kokoh, gunung Ranaka dan gunung Mandosawu menunjukkan keperkasaannya.  Pada kaki gunung membentang panorama kota ruteng yang asri dan sangat memesona, di beberapa tempat terlihat kelompok pepohonan dengan jumlah terbatas dan persawahan membentuk jaring laba-laba.  Suatu pemandangan  alam yang luar biasa.  Kotaku nan indah, didominasi oleh warnah hijau  menebar kesejukan. 

“Kapan balik Jakarta?”

“Besok”, jawabku singkat.

“Besok?”  suaranya pelan hampir tak terdengar,  nampak raut wajah  menyimpan kecewa, mungkin tak ingin aku pergi terlalu cepat.

“Cuti tahun depan aku akan kemari” kucoba menghibur hati yang mulai galau. Kuraih tangannya dan  kugenggam, Wela tidak menolak, lalu meletakkan tangan itu di dadaku agar dia merasakan detak jantungku dan aku pun merasakan getaran nadinya. Tak ada kata yang terucap, kami tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Lama tanpa kata, kucoba melirik, tatap matanya jauh menembus awang-awang, perlahan butiran air  menetes  dari balik pelupuk mata.

“Kamu menagis?”

“Tiiidakk.”  pertanyaanku mengangetkan Wela yang sedang bergelut dengan pikiran dan perasaan.  

Aku beranjak dari tempat duduk,  kuhapus  air mata itu lalu kuraih tubuhnya  “jangan menangis gadis kecilku”,  bisikku lirih.

Tagis Wela pecah dalam pelukanku,   ingin rasanya dia tetap berada di disitu,  di dekat jantung dan hatiku.

“Jadilah milikku selamanya.” Wela mengangguk pelan, relung hatiku terasa  sedang dipercik air surgawi, suatu kebahagiaan yang luar biasa. Akhirnya  penantian panjang dan tak pasti terjawab sudah.

"Jagalah aku sepanjang hidupmu", Wela menatapku penuh harap, kubelai  rambutnya dan kukecup keningnya.

Sebelum kembali aku bersujud syukur di depan Bunda Maria karena doaku  telah dikabulkan. Wela hadiah terindah dalam hidupku seindah namanya “Wela” yang berarti “Bunga”. Bunga yang kuperoleh dari Bukit “Golo Curu”.