Kotaku yang indah menghiasi kaki Pegunungan Taman Wisata Alam Ruteng

Selasa, 25 Juni 2013

Merajut Cinta di "Bukit" Golo Curu






Oleh : 
Agnes Purnama Ndendong



“Ka Lino ngelamun ya?” Suara Nera mengejutkan aku yang sedang menyendiri di teras belakang rumah ditemani remang-remang malam.  

“Gak kok, lagi menikmati rembulan,” jawabku sedikit menipu.

“Lagi mikirin apa kak?” Nera tidak percaya, lalu meletakkan tangannya di pundakku. Perhatiannya luar biasa, syukur aku memiliki adik sebaik Nera.

“Kalau tidak ingin diganggu aku ke kamar dulu ya kak, tugas sekolah bu..a...nya....kkk.”  Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.   

Dingin udara kota Ruteng tidak mampu mengusir aku yang sedang terlena dalam lamunan panjang.

Sejak jumpah Wela di emperan toko Sejati membuat aku sangat merindukannya. Walaupun tidak secantik  dulu tetap istimewa dalam hidupku. Beban hidup dan kondisi ekonomi membuat kecantikanya memudar dan tidak terawat.  Ingin sekali aku membahagiakan hidupnya, mengeluarkan dari penderitaan.  Bukan karena ingin membalas budi orang tua  yang pernah sangat berjasa dan punya andil dalam kesuksesanku tapi aku benar-benar sangat menyayanginya.  

Aku dan Wela  sebaya, waktu kecil selalu bermain bersama dan mengerjakan apa saja bersama. Wela setia  disamping dan menghiburku bila dimarah bapaknya.  Mungkin karena sendiri  anak cowok diantara 3 cewek sehingga kenakalan kecil pun dianggap luar biasa, maklum Wela dan adik-adiknya sangat sopan dan penurut. 

Setelah usaha orang tuaku bangkrut ayahnya meminta aku tinggal bersama mereka agar tidak putus sekolah.  Ayah Wela  sepupu jauh ibuku dan kebetulan teman akrab ayahku. Ayah dan ibu tidak keberatan aku tinggal di rumah Wela karena mereka harus pulang kampung untuk mengurus  kebun Kopi  dan Cengkeh yang merupakan satu-satunya harta yang masih tersisa.

Banyak kenangan manis yang tak terlupakan bersama Wela dan selalu menjadi obyek keusilanku semasa kecil.

“Balap  yuk, yang kalah sebagian lauknya buat yang menang”. Sudah menjadi kebiasaan kami  sepulang sekolah saat masih di bangku SD. Letak sekolah kurang lebih 300 meter dari rumah.

“Tapi jangan curang, kemarin waktu saya duluan kamu pura-pura jatuh”. Wela mengingatkan aku sebelum mulai start.

“Okay teman... sekarang kita mulai”. Aku memberi aba-aba lalu  lari sekuat tenaga.

“Saya menang....!!!”  Aku kegirangan.  Setiap kali balap lari Wela selalu kalah karena aku punya banyak cara agar bisa unggul, jika Wela lebih cepat aku pura-pura jatuh dan saat Wela akan menolongku aku lari sekuat tenaga. Itu semua kulalukan demi lauk pembangkit selera makan. Hampir setiap makan siang lauk Wela cuma  separuh karena sebagian untukku. Wela tidak pernah marah atau membenciku bila dicurangi, anehnya aku merasa puas setelah melakukan itu pada Wela.

Aku telah membuat Wela menjadi sedikit tomboi, kuajak bermain bola, perang-perangan dan  menembak burung di kebun yang tak jauh dari rumah. Bahkan Wela pernah jatuh saat sedang mengejar burung dan kakinya terkilir.

“Wela kejar burungnya”, aku menyuruh Wela mengejar burung yang sedang sempoyongan setelah kutembak pakai katapel.

Wela berlari menuruni  bukit sambil tangannya menggapai  burung yang terbang rendah akibat terluka.

“Bukkk...” tiba-tiba jatuh dan terguling.

“Aduh... sakit.... tolong saya Lino”.  Secepat kilat aku menuju Wela,  tidak peduli semak dan dahan yang menghalangi langkah kakiku.    

Wela meringis kesakitan,  wajahnya berubah pucat. Aku panik dan cepat-cepat memeriksa kakinya.

“Kaki kananku sakit, mungkin terkilir”  Wela memijit pergelangan kaki dan coba berdiri dan melangkah.

“Sakit Lino, tidak bisa jalan”. Aku semakin panik takut kakinya patah.

“Sini kugendong”

“Tidak mau” Wela berotak ketika kucoba meraih tubuhnya.

“Kamu ingin tinggal di sini?” Aku sedikit emosi, akhirnya Wela pasrah, kugendong menaiki bukit menuju rumah, beberapa kali hampir jatuh karena postur tubuh kami sama. Sampai di rumah    aku disiksa bapaknya, berdiri satu kaki dan kedua tangan memegang telinga selama 1/2 jam.

Tamat SMP kami tidak bersama,  Wela dikirim ke sebuah SMA favorit di kota lain, sedangkan aku masuk SMA yang tidak jauh dari rumah. Jarak membuat aku selalu merindukannya, setiap akan liburan sekolah aku terus menghitung hari dan berharap waktu cepat bergulir agar segera bertemu Wela. Tidak seperi teman-teman lain yang memiliki  pacar, aku  selalu menghidar dari cewek-cewek  yang terus mencari perhatian bahkan ada yang tergila-gila padaku  karena memiliki wajah cukup tampan dan  otak yang cerdas. Cewek yang ada dalam pikiranku hanya Wela dan dia tidak pernah tahu. Walau tergolong cantik Wela pun tidak memiliki pacar.

Sejak ayahnya meninggal kehidupan keluarga Wela berubah total, harta yang dimiliki lenyap satu persatu karena ibunya tidak dapat  melanjutkan usaha ayahnya.  

Hidup ini memang ibarat roda berputar, ada kalanya di bawah lain waktu  di atas demikian pun sebaliknya,  nasib seseorang tidak ada yang tahu karena takdir digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Begitu juga dengan nasib keluargaku dan  keluarga Wela. Berkat kerja keras akhirnya ayahku dapat bangkit dari keterpurukan dan menjadi petani yang sukses, aku dibiayai ayah Wela hanya sampai tamat SMA,  ketika   akan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi ayah mengambil alih tanggung jawab sampai selesai kuliah dan sekarang tergolong sukses  di usia yang masih muda,  sedangkan Wela putus kuliah semester 4 pada faklutas teknik akibat tidak ada yang membiayai dan sekarang menjadi tulang punggung keluarga.   

“Wela..., tak tahu kah kamu kalau aku sangat mencintai dan menyayangi dirimu?” jerit hatiku. Kuambil gitar yang sedari tadi membisu di samping, kunyanyikan  sebuah lagu White Lion yang menggambarkan suasana hatiku You’re all  i need

 “Ka Lino..  sudah larut malam, ayo masuk.”

Di kamar aku sulit memejamkan mata, bukan karena udara dingin yang menusuk sampai ke  sum-sum tulang tetapi bayangan wajah Wela terus menari-nari dalam pikiranku.

Aku bangun kesiangan akibat telat tidur. Sisa liburan tinggal 2 hari lagi, aku tak mau membuang kesempatan bertemu Wela. Setelah sarapan langsung mandi dan bersiap-siap.

“Pak, aku pergi dulu ya.” pamit pada bapak yang sedang memberi makan ayam  di kandang belakang rumah.

“Kemana?”

“Ke rumah Wela”. Jawabku.

“Pantas  rapih sekali,”   bapak menggoda, kubalas dengan melempar senyum lalu menstater motor menuju rumah Wela.

Aku tertegun melihat rumah Wela yang semakin kusam dan tidak terawat, tempat aku dibesarkan selama 10 tahun, penuh kenangan manis yang tak terlupakan.

“Eh...  kak Lino.. kok bengong  di situ, ayo masuk kak”. Tiba-tida terdengar sebuah suara  dari samping rumah, adik Wela menghampiriku lalu membukakan pintu.

“Oh iya... makasih”, sedikit gerogi sebelum masuk ke ruang tamu.

“Mau cari kak Wela ya?” Aku hanya tersenyum.

Sambil menunggu wela aku membolak balik  album foto yang dibiarkan tergeletak di rak TV.  Mataku terpaku pada sebuah foto masa lalu, foto aku dan wela mengenakan seragam pramuka SD. Sangat jadul, kami difoto bapaknya setelah dibelikan seragam pramuka baru. Melihat foto itu aku jadi senyum-senyum sediri, ingat masa lalu,   bangga  memakai   seragam tersebut.

“Apa khabar Lino,”  suara yang tidak asing itu mengejutkan aku.

“Baaik...” agak gugup ketika Wela muncul dan mengambil tempat duduk tepat di depanku. Jantungku berdegup kencang. Aku merasa kikuk, untung ibu dan ketiga adiknya ikut nimbrung sehingga suasana menjadi cair dan penuh tawa.

“Kalau tidak keberatan aku ingin mengajakmu ke luar.”  Entah mengapa ide itu tiba-tiba muncul.

“Ke mana?”

“Ke Golo Curu.”

Wajah Wela memerah, sorot matanya penuh ragu, Wela melirik ibu dan adik-adiknya seakan ingin  meminta persetujuan.

“Pergilah.”   Ibu merestui dan adik-adiknya pun ikut mengangguk, aku kegirangan.

“Saya ganti baju dulu ya.”  Kujawab dengan senyum, sebuh senyum kemenangan  karena berhasil mengajak Wela pergi. Untuk pertama kali setelah 9 tahun tidak pergi berdua, terakhir kali kami pergi bersama waktu bapaknya meninggal,  mengantarnya ke terminal Umbulharjo  Yogyakarta menuju Denpasar.

Wela mengenakan kaus oblong abu-abu dan celana jeans, rambutnya dibiarkan terurai sebahu.  Walau tanpa make up paras cantiknya masih nampak. Jantungku terus bergetar sepanjang jalan menuju Golo Curu.

Di kaki Golo Curu aku memarkir motor. Wajah Golo Curu tidak banyak berubah, masih seperti yang  dulu, punggung bukit didominasi oleh semak,   pepohon  Ampupu dan sebagian kecil tanaman Kopi sedangkan pada tepian puncak nampak   kelompok rumpun    bambu.  Beberapa   pohon Ampupu  ditanam   di tengah puncak  dengan jarak yang cukup lebar agar tidak mempersempit pelataran tempat  umat berdoa dan   berfungsi  sebagai peneduh. Pada tebing kiri kanan jalan berderet  ukiran gambar kisah perjalanan Yesus ke Puncak Golgota, biasanya para pesiarah melakukan jalan salib mulai dari perhentian I sampai ke XIV.  Aku dan Wela tidak melalukan prosesi itu, kami langsung menuju puncak.  Walau pendakian tidak terlalu sulit  sempat membuat kami ngos-ngosan.

Setelah beristirahat sejenak kami  menuju Bunda Maria, menyampaikan ujud masing-masing.  Hanya satu  permintaanku saat itu,  memohon agar gadis yang ada di sampingku  menjadi milikku selamanya.  Ada kedamaian yang luar biasa saat sujud bersama orang yang sangat aku kasihi. 

“Oh Tuhan biarkan  dia selalu di dekatku.” Bisik  hatiku.

“Sudah selesai doanya?” Aku menghampiri   Wela yang telah selesai membuat tanda salib.  Wela bedoa cukup  lama dan khusuk, sedangkan aku sudah sejak tadi  menunggu.    Saya tidak terkejut melihat cara  Wela berdoa karena  terbiasa sejak kecil berkat didikan orang tua.

“Ia Lino, lama menunggu?”  Aku  menggeleng dan mengajak  Wela menuju tempat duduk yang telah dibangun secara permanen sepanjang tepian  puncak Golo Curu.

Kami duduk berdampingan sambil menikmati sajian alam ditemani semilir angin Golo Curu.  Nun jauh di sana  nampak jejeran pegunungan Taman Wisata Alam Ruteng berdiri kokoh, gunung Ranaka dan gunung Mandosawu menunjukkan keperkasaannya.  Pada kaki gunung membentang panorama kota ruteng yang asri dan sangat memesona, di beberapa tempat terlihat kelompok pepohonan dengan jumlah terbatas dan persawahan membentuk jaring laba-laba.  Suatu pemandangan  alam yang luar biasa.  Kotaku nan indah, didominasi oleh warnah hijau  menebar kesejukan. 

“Kapan balik Jakarta?”

“Besok”, jawabku singkat.

“Besok?”  suaranya pelan hampir tak terdengar,  nampak raut wajah  menyimpan kecewa, mungkin tak ingin aku pergi terlalu cepat.

“Cuti tahun depan aku akan kemari” kucoba menghibur hati yang mulai galau. Kuraih tangannya dan  kugenggam, Wela tidak menolak, lalu meletakkan tangan itu di dadaku agar dia merasakan detak jantungku dan aku pun merasakan getaran nadinya. Tak ada kata yang terucap, kami tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Lama tanpa kata, kucoba melirik, tatap matanya jauh menembus awang-awang, perlahan butiran air  menetes  dari balik pelupuk mata.

“Kamu menagis?”

“Tiiidakk.”  pertanyaanku mengangetkan Wela yang sedang bergelut dengan pikiran dan perasaan.  

Aku beranjak dari tempat duduk,  kuhapus  air mata itu lalu kuraih tubuhnya  “jangan menangis gadis kecilku”,  bisikku lirih.

Tagis Wela pecah dalam pelukanku,   ingin rasanya dia tetap berada di disitu,  di dekat jantung dan hatiku.

“Jadilah milikku selamanya.” Wela mengangguk pelan, relung hatiku terasa  sedang dipercik air surgawi, suatu kebahagiaan yang luar biasa. Akhirnya  penantian panjang dan tak pasti terjawab sudah.

"Jagalah aku sepanjang hidupmu", Wela menatapku penuh harap, kubelai  rambutnya dan kukecup keningnya.

Sebelum kembali aku bersujud syukur di depan Bunda Maria karena doaku  telah dikabulkan. Wela hadiah terindah dalam hidupku seindah namanya “Wela” yang berarti “Bunga”. Bunga yang kuperoleh dari Bukit “Golo Curu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar