Kotaku yang indah menghiasi kaki Pegunungan Taman Wisata Alam Ruteng

Selasa, 19 Maret 2013

Masih Ada Cinta Untuk Dion









Oleh :
Agnes P. Ndendong


Sebelum   melanjutkan perjalanan ke Jakarta aku duduk santai sambil baca koran  di ruang tunggu bandar udara  Ngurah Rai - Denpasar.  Waktu keberangkatan masih 1 jam lagi, sangat membosankan menunggu tanpa  teman ngobrol,  separuh waktu  sudah kuhabiskan untuk mondar mandir  di tempat penjualan cindera mata khas Bali. Bahkan untuk membuang rasa jenuh aku membaca koran sampai iklan niaga karena hampir semua berita manca negara, nasional dan lokal telah kulahap sampai habis.  Saking asyik membaca tidak memperhatikan sekeliling walu suasana cukup ramai oleh  hiruk pikuk para penumpang yang akan berangkat ke berbagai tempat tujuan.  Saat mata mulai lelah perlahan kulipat koran dengan sangat rapih lalu diselipkan pada salah satu tas tangan yang berisi oleh-oleh buat keponakan yang kuliah  di Jakarta.  

“Hai apa khabar?”  terdengar suara seseorang yang  duduk di samping. Jantungku berdegup kencang saat menoleh untuk menjawab sapaan tersebut. “Kamu Dion?” Tanyaku  ragu. “Ya, aku Dion,” sambil mengulurkan tangan. Berat rasanya  menyambut tangan tersebut,  terlintas dalam ingatan kejadian 10 tahun yang lalu, Dion menghilang tanpa berita membuat aku depresi berat.  Melihat tangannya yang terus diulur akhirnya kuterima  dengan sikap dingin, kami berjabatan tangan.   “Lama tidak bertemu, kamu masih seperti yang dulu.” Aku tetap diam sambil memperhatikan Dion dari ujung rambut sampai kaki. Dia kelihatan agak kurus, wajah lebih tua dari umurnya. “Lita, mengapa kamu diam ? Apakah kamu  tidak menyukai pertemuan ini? Bicara donk.” Dion memelas seperti seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan. “Ok,  tak  mengapa”. Dion tidak memaksa aku untuk menjawab, namun terus menatap diriku, aku jadi salah tingkah. Karena  terus diperhatikan aku melempar pandangan ke tempat lain, memperhatikan orang-orang yang hilir mudik di ruang tunggu. Hatiku terus menggerutu “sialan, mengapa orang ini  bisa muncul lagi dalam hidupku”.  Aku jadi tidak  betah duduk di sampingnya. Entah mengapa ada dorongan untuk meliriknya, mungkin karena tidak percaya dengan apa yang barusan dilihat, ternyata dia juga sedang melirik aku, mata kami saling beradu pandang, jantungku  bergetar tak karuan.  “Kamu mau kemana Lita?” Kembali  Dion membuka pembicaraan, suaranya yang lembut mencairkan hati yang beku. “Ke Jakarta”.  Jawabku singkat. “Sama donk, saya juga ke Jakarta”. Dion menginformasikan kota tujuannya, semoga tidak satu pesawat bhatinku.  Tiba-tiba   terdengar panggilan agar  para penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 22 tujuan  Jakarta segera menuju pesawat melalui pintu 17.  ‘”Maaf aku harus berangkat sekarang”, pamit pada Dion,   “Kita satu pesawat Lita”. Cepat-cepat aku meraih tasku dan bergegas  ke pintu  17, Dion menyusul dari belakang, aku tidak perduli. Syukur kami tidak duduk berdampingan karena aku duduk di kursi nomor 10A sedangkan Dion jauh di belakang.  

Sepanjang perjalanan bayangan masa lalu terus menghantui pikiranku. Aku ingat setelah selesai kuliah Dion ditarik untuk bergabung ke salah satu perusahan tambang di Kalimantan sedangkan aku kembali ke kampung halaman. Walaupun jauh hubungan kami tetap langgeng, saling setia satu sama lain sejak masih duduk di bangku SMA. Kami memiliki seorang teman akrab bernama Rio yang sangat mendukung hubungan kami. Rio sama seperti aku, setelah selesai kuliah pulang mengabdi di tanah kelahiran. Selama Dion berada di Kalimantan Rio tetap setia menjadi sahabatku bahkan Dion menitipkan aku pada Rio agar dijaga sampai Dion datang melamar dan menikahi aku. Namun 10 tahun yang lalu Dion tiba-tiba menghilang, aku sangat menderita dan mengalami depresi berat. Untung ada Rio yang setia menghibur dan membangkitkan aku dari keterpurukan. Setelah bisa melupakan Dion, perlahan muncul benih-benih cinta diantara kami.  Ketika Rio mengungkapkan isi hatinya aku langsung menyambut dengan gembira, karena diam-dam aku juga mencintainya. Rio seorang sahabat yang baik. Bila sedang dalam masalah Rio setia mendengar curahan hatiku dan menghibur dikala sedih.  Akhirnya kami menikah dan dikaruniai 2 orang anak Regi dan Aldi. Ternyata Rio bukan hanya teman yang baik tetapi juga suami yang sangat bertanggung jawab, cintanya yang luar biasa membuat hidupku diwarnai kebahagiaan. Namun tidak bertahan lama, kebahagianku  direnggut oleh kecelakaan yang menimpa Rio 3 tahun yang lalu,  Rio telah pergi untuk selamanya. Lamunanku terusik oleh pramugari yang membagi makanan ringan, setelah menerima kotak makanan aku melirik jam tangan, masih ½ jam lagi sampai Jakarta. Tanpa  membuang waktu aku langsung menghabiskan kue yang ada di dalam kotak, lega rasanya setelah perut terisi kembali.   Sisa waktu aku habiskan dengan membaca ulang koran yang kubeli di bandara Ngurah Rai.  

Setelah  pesawat landing aku kemasi barang bawaanku, jangan sampai ada yang ketinggalan,   lalu melangkahkan kaki ke pintu keluar. Perlu kesabaran untuk antri karena penumpang sangat penuh.

“Bagasimu sudah diambil Lita?” Suara Dion mengejutkan aku. “Belum”, jawabku singkat tanpa sedikitpun menoleh, rasa benci dan kecewa masih tersisa di hati. “Ada yang jemput? Kalau tidak, kita bisa bareng, akan kuantar ke penginapanmu”. Dion menawarkan jasanya, “maaf,  aku akan dijemput keponakan yang sedang dalam perjalanan ke mari”. Setelah  sebuah tas   ditemukan  aku langsung menuju kursi kosong untuk melepas lelah sambil memperhatikan sekeliling ruangan. Dari jarak yang cukup dekat nampak  hiruk pikuk para penumpang Lion Air  mencari barang  bagasi dan pada arah lain muncul serombongan penumpang yang baru turun dari pesawat, suasana ruangan pengambilan bagasi menjadi semakin ramai.  

Dion menuju tempat dudukku setelah barang ditemukan,  langkahnya tidak segagah dulu, mengapa jalannya pincang? Aku sedikit terkejut dan  terus memperhatikannya. “Bolehkah aku duduk di sampingmu?” Dion bertanya ragu, mungkin karena sejak pertama kali bertemu aku bersikap dingin padanya sehingga agak canggung. “Silahkan” jawabku sambil melempar senyum, untuk pertama kali aku bersikap ramah padanya.

“Ada urusan apa  ke Jakarta?” Melihat perubahan sikapku Dion semakin berani  bertanya. “Mau ikut Workshop, kamu masih tinggal di Kalimantan?” Aku balik bertanya. “Tidak, sudah 10 tahun tinggal di Jakarta, sejak kecelakaan aku tidak bisa aktif di lapangan,  untung otakku masih dibutuhkan   sehingga tidak  pensiun dini dan dipindahkan ke kantor pusat”. Sambil matanya menerawang jauh. “Kakiku sudah diamputasi”. Dion memperlihatkan  kaki kiri yang telah diganti  kaki palsu. Hatiku miris, pantas tubuhnya berubah ceking, mungkin karena kondisi tubuh membuat hidupnya penuh beban, aku tahu persis Dion seorang yang sangat aktif dan kretif. Percakapan kami terhenti oleh telpon Yani yang sudah  menunggu di depan pintu keluar. Aku pamit pada Dion, sekali lagi dia menawarkan jasa untuk mengantar ke tempat penginapan. Aku tidak mampu  menolak, Dion kegirangan. Sepanjang jalan lebih banyak diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.  Cerita Dion menimbulkan tanda tanya besar. “Apakah kecelakaan 10 tahun yang menyebabkan putusnya hubungan kami? Mungkin Dion malu karena sudah kehilangan sebuah kaki”. Pikirankku menjadi tidak karuan. “Bagaimana khabar Regi dan Aldi tante?” Pertanyaan Yani memecah sunyi. “Mereka baik-baik saja, Aldi sempat rewel     sebelum tante berangkat”. Jawabku. “Anak kamu berapa Lita?”, Dion ikut nimbrung. “Anakku dua, yang sulung cewek namanya Regi dan si bungsu cowok namanya Aldi”. Kalau kamu berapa?” Aku balik bertanya. “Istri saja belum punya, apa lagi anak.” Jawab Dion penuh canda.  “Ah.. yang benar, bilang saja kalau  anakmu sudah 5 orang atau 10 orang”,   aku tak percaya. “Benar Lita, aku belum menikah,  siapa nama suamimu?” Mendengar jawaban dan pertannyaan Dion, lidahku menjadi kaku dan tenggorokanku mendadak  kering, untuk menelan ludah saja rasanya sulit.  “Mengapa diam Lita? Jawab donk, siapa tahu aku kenal suamimu”.  Tenggorokanku semakin kering, aku berusaha untuk menjawab tetapi yang keluar hanya batuk panjang, aku benar-benar tak mampu menjawab. Dion memberikan sebotol minuman agar batukku reda.   “Maaf Dion, belum bisa kujawab, akan aku ceritakan setelah  kegiatan Workshop”.  Dion tidak keberatan.

Sejak bertemu Dion pikiranku menjadi ruwet, untung Workshop kali ini materinya sangat menarik  membuat aku bisa melupakan semua yang telah mengganggu ketenangan bhatin. Waktu 5 hari  mengikuti workshop cukup  memulihkan  pikiran dan perasaan yang sempat terusik.

Rupanya Dion ingat akan janjiku, selesai kegiatan aku dijemput. “Kita kemana dulu nich?” tanya Dion. “Ke kost Yani, malam ini aku nginap dikostnya dan besok pagi pulang kampung”. Jawabku. “Besok sudah pulang?” Dion bertanya tak percaya. “Ya, besok pulang, tiket sudah kubeli”. Tergambar kekecewaan di wajahnya, namun tak ada komentar.  Hiruk pikuk lalulintas kota jakarta terus menemani perjalanan kami menuju kost Yani.

Dion mengajak aku dan Yani makan siang di luar, ternyata Yani  tidak bisa ikut karena ada kuliah siang dan sore. Akhirnya cuma kami berdua yang berangkat, mobil parkir tepat di depan sebuah restauran  sederhana nan  asri, aku sangat menyukai tempat tersebut. Kesemerawutan lalulintas kota Jakarta tak terasa berkat rimbunnya pohon di sudut restauran. Kesejukan taman yang ditawarkan memikat hati para pengunjung, nampak bagai taman yang indah dengan saung-saung kecil sebagai tempat makan lesehannya.

Kami memilih tempat paling pojok karena di depan saung terdapat kolam ikan yang dilengkapi  pancuran buatan,  sudah pasti  akan membangkitkan selera makan. “Silahkan pesan makanan kesukaanmu Lita”, Dion menyodorkan daftar menu yang tersedia di restoran tersebut. Aku memilih ikan bakar, cah kangkung dan  jus alpokat, ternyata Dion memesan menu yang sama. Setelah dicicipi ternyata tidak hanya menyajikan tempat yang menyenagkan tetapi juga hidangan yang sangat lezat. “Maaf, bolehkan kita melanjutkan cerita yang lalu? Aku masih penasaran karena jawabanmu belum tuntas”. Dion mengaketkan aku yang sedang melahap makanan. Sulit sekali menelan makanan yang sudah terlanjur masuk ke mulut, kuminum segelas air putih dan berusaha untuk mengendalikan perasaan, lalu coba santai sejenak.  “Baik lah Dion,   kamu bertanya tentang suamiku. Aku menikah dengan orang yang sangat kamu kenal, bahkan sangat dekat,   Rio teman kita”. Wajah Dion  berubah pucat, makanan yang hendak  masuk ke mulut dikembalikan ke piring. “Kamu menikah dengan  Rio?”  Suaranya bergetar, terasa ada luapan emosi yang tertahan. “Ya, kami nikah setelah lama tak ada berita darimu, Rio sangat setia menemani dan menghiburku saat aku stres dan depresi berat, sehingga ketika dia menyampaikan isi hatinya dan  melamar, aku tak keberatan”. Dalam sekejap Dion kehilangan selera makan, makanan yang ada tidak disentuhnya lagi.  “Mengapa kamu tidak menikah dengan orang lain? Aku benci Rio.” Dion berkata lirih. “Seharsnya kamu bersyukur Rio menjadi suamiku karena dia seorang laki-laki yang baik, tidak pantas kamu membencinya.  Mengapa kamu menghilang 10 tahun yang lalu?” Kini giliranku yang kehilangan selera makan akibat emosi, terasa kesejukkan restauran berubah kering dan gersang, membuat aku tak betah. “Karena aku cacat Lita, setelah kecelakaan aku jadi tidak percaya diri dan memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kita, aku tidak ingin  kamu memiliki seorang suami yang cacat dan anak-anakku memiliki ayah yang cacat”. Air matanya tak bisa dibendung, aku menyodorkan sebungkus tisu.  Air mataku pun terus menetes. “Mengapa kamu tidak menceritakan musibah itu padaku? Aku tidak akan malu memiliki suami yang cacat karena aku sangat mencintai dirimu”. Ada rasa penyesalan yang luar biasa. “Yah, apa boleh buat, kamu sudah menjadi istri Rio, semoga  kami tidak akan pernah bertemu, aku sangat cemburu karena dia teman dekatku,    sangat menyakitkan bila melihat kebahagiaan kalian”. Dion berkata dengan pasrah namun sedikit emosi.    “Kamu tidak akan pernah bertemu Rio, karena dia telah pergi untuk selamanya”. Jawabku lirih, tangisku semakin menjadi-jadi mengenang kekasih hati yang telah tiada. Dion tidak melanjutkan pembicaraan, membiarkan aku puas menangis. Setelah tangisku reda Dion bertanya “Ada apa dengan Rio,  dia meninggalkanmu? Kemana perginya? Dia telah menyakitimu?” Aku berusaha tenang “Rio tidak menyakitiku, dia meninggalkan aku dan anak-anak bukan karena keingiannya tetapi karena Tuhan  lebih mencintainya. Rio meninggal 3 tahun yang lalu akibat kecelakaan lalulintas”, Dion tertegun mendengar ceritaku.

Setelah meninggalkan restoran  aku meminta Dion menemaniku ke ITC Mangga Dua untuk membeli oleh-oleh buat Regi dan Aldi. Dion ikut membantuku memilih barang.  Setelah mendapatkan semua yang aku cari kami langsung pulang  karena   akan   makan malam bersama di kost Yani.

“Tante Lita masak donk, aku capek nich”, Yani memohon, mungkin kelelahan setelah kuliah karena kampusnya cukup jauh dari kost. “Tapi jangan marah kalau masakan tante kurang enak ya”, lalu aku beraksi di dapur,  tidak sulit  hanya memasak sayur bayam dan tempe goreng, makasakan sederhana, menu anak kost.  Aku melihat Dion makan dengan sangat bersemangat, “masakanmu enak, boleh aku tambah?” Yani ikut-ikutan menambah makanan. Senang sekali melihat Dion dan Yani melahap masakkanku sampai habis.

Jam 7.00 pagi Dion menjemput dan mengantarku ke bandara Soekarno-Hatta, Sebelum masuk ke ruang keberangkatan  aku pamit pada Dion, tak kusangka Dion  mencium keningku, aku jadi salah tingkah. Terasa  ada yang aneh dalam hati, kebahagia yang luar biasa.  “Kalau sudah sampai jangan lupa telpon.”  Aku mengangguk lalu pergi. Baru dua langkah meninggalkan Dion terdengar lagi ucapanya  “aku momang ite enu”.  Jiwaku bergetar, aku balik dan melempar senyum lalu  bergegas menuju  ruang tunggu.  Masih ada cinta untukmu Dion, maafkan aku Rio.