Oleh :
Agnes Purnama Ndendong
“Ka
Lino ngelamun ya?” Suara Nera mengejutkan aku yang sedang menyendiri di teras
belakang rumah ditemani remang-remang malam.
“Gak
kok, lagi menikmati rembulan,” jawabku sedikit menipu.
“Lagi
mikirin apa kak?” Nera tidak percaya, lalu meletakkan tangannya di pundakku.
Perhatiannya luar biasa, syukur aku memiliki adik sebaik Nera.
“Kalau
tidak ingin diganggu aku ke kamar dulu ya kak, tugas sekolah
bu..a...nya....kkk.” Aku hanya mengangguk sambil
tersenyum.
Dingin
udara kota Ruteng tidak mampu mengusir aku yang sedang terlena dalam lamunan
panjang.
Sejak jumpah Wela di emperan toko Sejati membuat aku sangat merindukannya. Walaupun tidak
secantik dulu tetap istimewa dalam hidupku. Beban hidup dan kondisi
ekonomi membuat kecantikanya memudar dan tidak terawat. Ingin sekali aku
membahagiakan hidupnya, mengeluarkan dari penderitaan. Bukan karena ingin
membalas budi orang tua yang pernah sangat berjasa dan punya andil dalam
kesuksesanku tapi aku benar-benar sangat menyayanginya.
Aku
dan Wela sebaya, waktu kecil selalu bermain bersama dan mengerjakan
apa saja bersama. Wela setia disamping dan menghiburku bila dimarah bapaknya. Mungkin
karena sendiri anak cowok diantara 3 cewek sehingga kenakalan kecil pun
dianggap luar biasa, maklum Wela dan adik-adiknya sangat sopan dan
penurut.
Setelah
usaha orang tuaku bangkrut ayahnya meminta aku tinggal bersama mereka agar
tidak putus sekolah. Ayah Wela sepupu jauh ibuku dan kebetulan
teman akrab ayahku. Ayah dan ibu tidak keberatan aku tinggal di rumah Wela
karena mereka harus pulang kampung untuk mengurus kebun Kopi dan
Cengkeh yang merupakan satu-satunya harta yang masih tersisa.
Banyak
kenangan manis yang tak terlupakan bersama Wela dan selalu menjadi obyek
keusilanku semasa kecil.
“Balap
yuk, yang kalah sebagian lauknya buat yang menang”. Sudah menjadi
kebiasaan kami sepulang sekolah saat masih di bangku SD. Letak sekolah
kurang lebih 300 meter dari rumah.
“Tapi
jangan curang, kemarin waktu saya duluan kamu pura-pura jatuh”. Wela
mengingatkan aku sebelum mulai start.
“Okay
teman... sekarang kita mulai”. Aku memberi aba-aba lalu lari sekuat
tenaga.
“Saya
menang....!!!” Aku kegirangan. Setiap kali balap lari Wela selalu
kalah karena aku punya banyak cara agar bisa unggul, jika Wela lebih cepat aku
pura-pura jatuh dan saat Wela akan menolongku aku lari sekuat tenaga. Itu semua
kulalukan demi lauk pembangkit selera makan. Hampir setiap makan siang lauk
Wela cuma separuh karena sebagian untukku. Wela tidak pernah marah atau membenciku
bila dicurangi, anehnya aku merasa puas setelah melakukan itu pada Wela.
Aku
telah membuat Wela menjadi sedikit tomboi, kuajak bermain bola, perang-perangan
dan menembak burung di kebun yang tak jauh dari rumah. Bahkan Wela pernah
jatuh saat sedang mengejar burung dan kakinya terkilir.
“Wela
kejar burungnya”, aku menyuruh Wela mengejar burung yang sedang sempoyongan
setelah kutembak pakai katapel.
Wela
berlari menuruni bukit sambil tangannya menggapai burung yang
terbang rendah akibat terluka.
“Bukkk...”
tiba-tiba jatuh dan terguling.
“Aduh...
sakit.... tolong saya Lino”. Secepat kilat aku menuju Wela, tidak
peduli semak dan dahan yang menghalangi langkah kakiku.
Wela
meringis kesakitan, wajahnya berubah pucat. Aku panik dan cepat-cepat
memeriksa kakinya.
“Kaki
kananku sakit, mungkin terkilir” Wela memijit pergelangan kaki dan coba
berdiri dan melangkah.
“Sakit
Lino, tidak bisa jalan”. Aku semakin panik takut kakinya patah.
“Sini
kugendong”
“Tidak
mau” Wela berotak ketika kucoba meraih tubuhnya.
“Kamu
ingin tinggal di sini?” Aku sedikit emosi, akhirnya Wela pasrah, kugendong
menaiki bukit menuju rumah, beberapa kali hampir jatuh karena postur tubuh kami
sama. Sampai di rumah aku disiksa bapaknya, berdiri
satu kaki dan kedua tangan memegang telinga selama 1/2 jam.
Tamat
SMP kami tidak bersama, Wela dikirim ke sebuah SMA favorit di kota lain,
sedangkan aku masuk SMA yang tidak jauh dari rumah. Jarak membuat aku selalu
merindukannya, setiap akan liburan sekolah aku terus menghitung hari dan
berharap waktu cepat bergulir agar segera bertemu Wela. Tidak seperi
teman-teman lain yang memiliki pacar, aku selalu menghidar
dari cewek-cewek yang terus mencari perhatian bahkan ada yang tergila-gila
padaku karena memiliki wajah cukup tampan dan otak yang cerdas.
Cewek yang ada dalam pikiranku hanya Wela dan dia tidak pernah tahu. Walau
tergolong cantik Wela pun tidak memiliki pacar.
Sejak
ayahnya meninggal kehidupan keluarga Wela berubah total, harta yang dimiliki
lenyap satu persatu karena ibunya tidak dapat melanjutkan usaha
ayahnya.
Hidup ini
memang ibarat roda berputar, ada kalanya di bawah lain waktu di atas
demikian pun sebaliknya, nasib seseorang tidak ada yang tahu karena
takdir digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Begitu juga dengan nasib keluargaku
dan keluarga Wela. Berkat kerja keras akhirnya ayahku dapat bangkit dari
keterpurukan dan menjadi petani yang sukses, aku dibiayai ayah Wela hanya
sampai tamat SMA, ketika akan melanjutkan sekolah ke
perguruan tinggi ayah mengambil alih tanggung jawab sampai selesai kuliah dan
sekarang tergolong sukses di usia yang masih muda, sedangkan Wela
putus kuliah semester 4 pada faklutas teknik akibat tidak ada yang membiayai
dan sekarang menjadi tulang punggung keluarga.
“Wela...,
tak tahu kah kamu kalau aku sangat mencintai dan menyayangi dirimu?” jerit
hatiku. Kuambil gitar yang sedari tadi membisu di samping, kunyanyikan
sebuah lagu White Lion yang menggambarkan suasana hatiku You’re
all i need.
“Ka
Lino.. sudah larut malam, ayo masuk.”
Di
kamar aku sulit memejamkan mata, bukan karena udara dingin yang menusuk sampai
ke sum-sum tulang tetapi bayangan wajah Wela terus menari-nari dalam
pikiranku.
Aku
bangun kesiangan akibat telat tidur. Sisa liburan tinggal 2 hari lagi, aku tak
mau membuang kesempatan bertemu Wela. Setelah sarapan langsung mandi dan
bersiap-siap.
“Pak,
aku pergi dulu ya.” pamit pada bapak yang sedang memberi makan ayam di
kandang belakang rumah.
“Kemana?”
“Ke
rumah Wela”. Jawabku.
“Pantas
rapih sekali,” bapak menggoda, kubalas dengan melempar senyum lalu
menstater motor menuju rumah Wela.
Aku
tertegun melihat rumah Wela yang semakin kusam dan tidak terawat, tempat aku
dibesarkan selama 10 tahun, penuh kenangan manis yang tak terlupakan.
“Eh...
kak Lino.. kok bengong di situ, ayo masuk kak”. Tiba-tida terdengar sebuah suara dari samping rumah, adik Wela menghampiriku lalu membukakan pintu.
“Oh
iya... makasih”, sedikit gerogi sebelum masuk ke ruang tamu.
“Mau
cari kak Wela ya?” Aku hanya tersenyum.
Sambil
menunggu wela aku membolak balik album foto yang dibiarkan tergeletak di rak
TV. Mataku terpaku pada sebuah foto masa lalu, foto aku dan wela
mengenakan seragam pramuka SD. Sangat jadul, kami difoto bapaknya setelah
dibelikan seragam pramuka baru. Melihat foto itu aku jadi senyum-senyum sediri,
ingat masa lalu, bangga memakai seragam tersebut.
“Apa
khabar Lino,” suara yang tidak asing itu mengejutkan aku.
“Baaik...”
agak gugup ketika Wela muncul dan mengambil tempat duduk tepat di depanku.
Jantungku berdegup kencang. Aku merasa kikuk, untung ibu dan ketiga adiknya
ikut nimbrung sehingga suasana menjadi cair dan penuh tawa.
“Kalau
tidak keberatan aku ingin mengajakmu ke luar.” Entah mengapa ide itu tiba-tiba
muncul.
“Ke
mana?”
“Ke
Golo Curu.”
Wajah
Wela memerah, sorot matanya penuh ragu, Wela melirik ibu dan adik-adiknya
seakan ingin meminta persetujuan.
“Pergilah.”
Ibu merestui dan adik-adiknya pun ikut mengangguk, aku kegirangan.
“Saya
ganti baju dulu ya.” Kujawab dengan senyum, sebuh senyum kemenangan
karena berhasil mengajak Wela pergi. Untuk pertama kali setelah 9 tahun tidak
pergi berdua, terakhir kali kami pergi bersama waktu bapaknya meninggal,
mengantarnya ke terminal Umbulharjo Yogyakarta menuju Denpasar.
Wela
mengenakan kaus oblong abu-abu dan celana jeans, rambutnya dibiarkan terurai
sebahu. Walau tanpa make up paras cantiknya masih nampak. Jantungku terus
bergetar sepanjang jalan menuju Golo Curu.
Di kaki Golo Curu aku memarkir motor. Wajah Golo Curu tidak
banyak berubah, masih seperti yang dulu, punggung bukit didominasi oleh
semak, pepohon Ampupu dan sebagian kecil tanaman Kopi
sedangkan pada tepian puncak nampak kelompok rumpun bambu. Beberapa pohon Ampupu ditanam di tengah puncak dengan jarak yang cukup lebar agar tidak
mempersempit pelataran tempat umat berdoa dan berfungsi
sebagai peneduh. Pada tebing kiri kanan jalan berderet ukiran gambar kisah
perjalanan Yesus ke Puncak Golgota, biasanya para pesiarah melakukan jalan
salib mulai dari perhentian I sampai ke XIV. Aku dan Wela tidak melalukan
prosesi itu, kami langsung menuju puncak. Walau pendakian tidak terlalu
sulit sempat membuat kami ngos-ngosan.
Setelah
beristirahat sejenak kami menuju Bunda Maria, menyampaikan ujud
masing-masing. Hanya satu permintaanku saat itu, memohon agar
gadis yang ada di sampingku menjadi milikku selamanya. Ada
kedamaian yang luar biasa saat sujud bersama orang yang sangat aku kasihi.
“Oh Tuhan biarkan dia selalu di dekatku.” Bisik hatiku.
“Sudah
selesai doanya?” Aku menghampiri Wela yang telah selesai membuat tanda
salib. Wela bedoa cukup lama dan khusuk, sedangkan aku sudah sejak tadi menunggu. Saya tidak terkejut melihat cara Wela berdoa karena terbiasa sejak kecil berkat didikan orang tua.
“Ia
Lino, lama menunggu?” Aku menggeleng dan mengajak Wela menuju
tempat duduk yang telah dibangun secara permanen sepanjang tepian puncak
Golo Curu.
Kami
duduk berdampingan sambil menikmati sajian alam ditemani semilir angin Golo
Curu. Nun jauh di sana nampak jejeran pegunungan Taman Wisata Alam Ruteng
berdiri kokoh, gunung Ranaka dan gunung Mandosawu menunjukkan keperkasaannya.
Pada kaki gunung membentang panorama kota ruteng yang asri dan sangat
memesona, di beberapa tempat terlihat kelompok pepohonan dengan jumlah terbatas
dan persawahan membentuk jaring laba-laba. Suatu pemandangan alam
yang luar biasa. Kotaku nan indah, didominasi oleh warnah hijau
menebar kesejukan.
“Kapan
balik Jakarta?”
“Besok”,
jawabku singkat.
“Besok?”
suaranya pelan hampir tak terdengar, nampak raut wajah menyimpan kecewa,
mungkin tak ingin aku pergi terlalu cepat.
“Cuti
tahun depan aku akan kemari” kucoba menghibur hati yang mulai galau.
Kuraih tangannya dan kugenggam, Wela tidak menolak, lalu meletakkan
tangan itu di dadaku agar dia merasakan detak jantungku dan aku pun merasakan
getaran nadinya. Tak ada kata yang terucap, kami tenggelam dalam pikiran
masing-masing.
Lama
tanpa kata, kucoba melirik, tatap matanya jauh menembus awang-awang, perlahan
butiran air menetes dari balik pelupuk mata.
“Kamu
menagis?”
“Tiiidakk.”
pertanyaanku mengangetkan Wela yang sedang bergelut dengan pikiran dan
perasaan.
Aku
beranjak dari tempat duduk, kuhapus air mata itu lalu kuraih tubuhnya
“jangan menangis gadis kecilku”, bisikku lirih.
Tagis
Wela pecah dalam pelukanku, ingin rasanya dia tetap berada di disitu, di dekat
jantung dan hatiku.
“Jadilah
milikku selamanya.” Wela mengangguk pelan, relung hatiku terasa sedang
dipercik air surgawi, suatu kebahagiaan yang luar biasa. Akhirnya
penantian panjang dan tak pasti terjawab sudah.
"Jagalah
aku sepanjang hidupmu", Wela menatapku penuh harap, kubelai
rambutnya dan kukecup keningnya.
Sebelum
kembali aku bersujud syukur di depan Bunda Maria karena doaku telah
dikabulkan. Wela hadiah terindah dalam hidupku seindah namanya “Wela” yang
berarti “Bunga”. Bunga yang kuperoleh dari Bukit “Golo Curu”.
