Kotaku yang indah menghiasi kaki Pegunungan Taman Wisata Alam Ruteng

Senin, 26 November 2012

Surat Cinta Renata




 Oleh : Agnes Purnama Ndendong





Setiap kali membuka facebook  seorang teman wanita selalu  menyapa dan menanyakan khabarku, namanya Rina Ananda, dengan berjalannya waktu persahabatan kami menjadi semakin akrab walaupun hanya di dunia maya.  Bila lama tidak membuka facebook Rina bertanya  mengapa aku tidak online.  Aku heran mengapa Rina begitu baik padaku, sedangkan aku sendiri tidak merasa ada yang istimewa dari pertemanan kami karena hanya mengenalnya di facebook. Terkadang aku kesel kalau diajak chatting terlalu lama, ada saja bahan obrolannya, aku sering pamit duluan karena merasa  telah banyak menyita waktuku. Anehnya Rina tidak pernah kecewa bila baru disapa aku langsung pamit dengan alasan sibuk. Pernah aku berniat untuk memblokir pertemanan kami tapi tidak tega,  takut Rina tersinggung dan aku tak mau menyakiti perasaanya.

Suatu hari setelah kembali  dari tugas luar kota aku membuka facebook, ternyata ada  pesan darinya, “Marni, mengapa kamu tidak online? Kamu kemana?” dan pesan lain  “Marni, bolehkah aku minta alamat emailmu? Aku ingin mengirim sesuatu untukmu.” Mungkin Rina ingin mengirim brosur bisnis seperti teman-teman lain yang meminta alamat emailku  dan berharap aku tertarik untuk menekuni pekerjaan yang ditawarkan. Agar  tidak kecewa aku  membalas pesannya dan mengirim alamat emailku.

Seminggu setelah mengirim alamat email kepada Rina muncul sebuah email yang ternyata bukan brosur bisnis online tetapi sebuah surat yang cukup panjang. Aku jadi penasaran, mengapa Rina menulis surat buat aku, bukankah kami cuma  kenal di facebook? Aku tak bisa langsung membaca surat tersebut karena sedang menyelesaikan banyak pekerjaan sehingga kucopy ke word dan save ke  salah satu folder, biar kubaca di rumah saja agar tidak mengganggu aktivitas kantor.
    
Email Rina terus mengganggu konsentarsi kerjaku, tapi aku berusaha untuk tidak tergoda agar pekerjaanku tuntas. Setelah makan malam aku membuka laptop dan mencari file surat Rina yang sudah tersimpan di word. Perlah-lahan kubaca surat tersebut.

Dear Marni,
Sebelumnya aku minta maaf bila akan banyak menyita waktumu untuk membaca emailku ini. Aku yakin pasti kamu kaget menerima emailku. Aku mengirim email ini karena ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu sejak pertama kali kita berteman di facebook. Pasti kamu penasaran mengapa aku melakukan hal ini. Ketahuilah bahwa aku sebenarnya istri dari teman SMA mu yang bernama Renata Robertus, kami menikah 15 tahun yang lalu dan dikaruniai 2 orang anak laki-laki, yang sulung bernama Aldo dan si bungsu bernama Marcel. Keluarga kami sangat harmonis, Renata seorang suami yang baik, pekerja keras  dan sangat bertanggung jawab pada keluarga. Namun sayang  5 tahun yang lalu Renata meninggal akibat kanker tiroid. Kami telah melakukan berbagaimacam upaya untuk menyembuhkan penyakitnya tetapi Tuhan  menghendaki lain, akhirnya aku dan anak-anak harus  pasrah ketika Tuhan memanggilnya.

Beberapa hari sebelum meninggal Renata memanggilku ke kamar dan mengambil sebuah surat yang pernah menggoncang rumah tangga kami pada awal pernikahan,  lalu  menarik aku  duduk bersama di tepian tempat tidur. Aku kaget ternyata surat tersebut masih disimpannya. Sepucuk surat cinta Renata untuk teman SMAnya.  Lalu mengatakan kepadaku, “Rina, aku tahu hidupku  tidak akan lama lagi, sebelum aku meninggal aku ingin mengakui segala dosaku dan meminta maaf padamu.” Sambil menggenggam  kedua telapak tanganku dengan erat dan berali-kali diciumnya. “Dulu aku pernah menyakitimu  karena surat ini, saat kita bertengkar aku merebutnya dari  tanganmu agar tidak dibakar dan aku berjanji untuk membakarnya sendiri, namun tanpa kamu ketahui aku tidak melakukan apapun terhadap surat ini, bahkan kusimpan pada tempat yang lebih aman agar tidak kamu temukan lagi.  Surat ini pernah sangat berharga bagiku, namun sudah tidak lagi, karena aku sangat mencintai dan menyayangi dirimu, aku minta maaf atas semua kesalahanku.” Ketika Renata  berdiri dan akan menyalakan   korek api secepat kilat aku merebut surat tersebut. “Jangan dibakar.., aku akan menyimpannya.” Entah mengapa  tiba-tiba  aku takut kehilangan surat yang pernah menyulut rasa cemburuku. Renata bengong melihat reaksiku, aku meraih tubuhnya,  lalu memeluk dan mencium keningnya sambil  berbisik “Sayang,  biarkan aku menyimpan surat ini, aku  sudah tidak cemburu  dan sakit hati lagi sebab aku tahu kamu sangat mencintai diriku”. Renata balik memeluk aku dengan erat,  air matanya menetes di pundakku, berkali-kali dia mencium kening dan pipiku. Aku tak mampu membendung  gejolak perasaan, tangisku  pecah dalam pelukannya, lama sekali aku memeluknya, rasanya tak ingin lepas. Terlintas dalam ingatan kemungkinan buruk yang  akan terjadi pada diri Renata,  aku sangat takut kehilangan dia. 

Lima hari  kemudian Renata meninggal dunia, separuh jiwaku hilang bersamanya  ke liang lahat, saat itu aku merasa berada pada puncak kehancuran, aku kehilangan pegangan hidup, yang tersisa hanya kepasrahan  pada Yang Maha Kuasa.   Sudah lima tahun  aku berkabung untuk kepergian Renata. 

Marni sahabatku yang baik,
Ketahuilah bahwa aku berteman  dan berusaha untuk akrab dengammu karena surat  cinta suamikku  ditulis untukmu. Dulu secara tidak sengaja aku menemukan surat tersebut di laci meja kerja Renata, aku sangat cemburu karena surat kumal itu masih disimpan dengan baik,  namun perlahan-lahan rasa cemburu itu  lenyap dibasuh ketulusan cinta suamiku . Tiga bulan yang lalu aku coba mencari namamu di facebook, ternayata kutemukan dan kamu menerima perimintaan pertemananku.  Setelah mengenalmu aku ingin sekali menyampaikan surat tersebut, surat yang tidak sempat diberikan oleh suamiku pada waktu kalian masih duduk di bangku SMA. Mungkin kamu cinta pertamanya. 

Berikut ini aku mengetik   kembali isi surat tersebut karena aslinya dalam  tulisan tangan dan kondisnya sangat   lusuh sehingga  sulit  dibaca.  
Semoga kamu mau menjadi teman baikku selamanya.

Salam persahabatan dariku,


Rina Ananda


Aku membaca surat Rina dengan berlinang air mata, sangat mengharukan.  Yah.. waktu SMA  aku punya teman bernama Renata Robertus tapi dia pacar teman akrabku. Mengapa dia menulis surat cinta untukku? Tanpa membuang waktu aku langsung membaca surat Renata untukku.


Asput, 28 April 1990

Marni yang baik,
Sudah  lama  sekali saya ingin mengungkapkan isi hatiku kepadamu namun   tidak punya keberanian karena  takut ditolak bahkan takut dimusuhi. Tanpa kamu ketahui saya  telah memendam perasaan ini  kurang lebih 3 tahun sejak kita masih duduk di kelas I SMA.

Pasti kamu kaget  ketika menerima suratku karena selama ini saya dekat  dengan  sahabat karibmu  Lola dan mengira saya  pacarnya.   Saya tidak pernah mencintai Lola, saya  mendekatinya karena ingin dekat denganmu.

Saya yakin kamu  tidak pernah tahu awal  perjumpahan kita, tapi saya tidak akan pernah lupa karena saat itu untuk pertama kalinya saya tertarik pada seorang gadis. Kita bertemu di warung samping kompleks asrama putri, ketika saya dan beberapa orang teman sedang nongkrong, tiba-tiba muncul 3 cewek yang hendak  berbelanja di warung tersebut, salah satunya kamu,  gadis berambut panjang dan memiliki mata yang indah.  Saya terus melirikmu tetapi kalian  tidak mempedulikan keberadaan   kami di sana.  Saya jadi penasaran dan   terus  berharap semoga suatu saat kita  bertemu  lagi.

Ternyata harapanku terkabul,  saya kegirangan ketika melihat kamu hadir pada apel perdana  tahun ajaran baru  sekolah kita. Kamu berada di deretan  kelas I-A sedangkan saya di deretan  kelas I-C. Sejak itu saya  terus memperhatikanmu, dan berusaha untuk mendapat  seorang teman akrab di kelasmu agar  setiap hari saya  bebas masuk dan keluar kelas tanpa ada yang curiga. Akhirnya saya bisa akrab dengan Lola sahabat karibmu, kalau dipikir lucu juga entah mengapa saya tidak berani  menjadi temanmu. Jantungku selalu bergetar bila melihat senyum manismu saat  menghampiri Lola. Ingin sekali bisa mendekatimu namun saya kehilangan nyali, kamu seorang gadis pendiam, tertutup dan very cool, sulit sekali  menebak isi hatimu,  rasanya harus berpikir 1.000 kali untuk melalkukannya. Tidak heran kalau kamu tidak memiliki pacar. Saya pernah  bertanya pada Lola, apakah kamu memiliki  pacar, kata Lola kamu tidak ingin punya pacar mungkin akan masuk biara. Wah... gawat kalau sampai masuk biara.  

Naik ke kelas II saya kembali berharap semoga kita memilih  jurusan yang sama, ternyata kamu masuk jurusan Fisika dan saya Biologi. Tak mengapa karena kita akan sering praktikum bareng dan  saya masih punya kesempatan untuk dekat denganmu walau keberanian yang kumiliki   cuma pada  jarak 2 meter dari dirimu. Saya selalu gugup bila terlalu dekat dengamu.

Mungkin kamu lupa waktu murid kelasku dan kelasmu  sama-sama diminta untuk terlibat dalam acara pesta di rumah guru Biologi kita, saya  memberimu sebuah Alpokat yang baru jatuh dari pohon.   Waktu buah itu jatuh ramai-ramai diperebutkan karena rasanya sangat enak dan saya  berhasil mendapatkannya. Hampir semua teman cewek  meminta buah tersebut padaku keculi kamu,  namun   tidak kuberikan  kepada siapa pun, kusembunyikan buah tersebut di saku celana panjangku dan saat pesta bubar diam-diam saya memberikan buah tersebut kepadamu. Bahagia sekali ketika kamu mau menerimanya karena untuk pertama kali saya bisa  memberikan sesuatu pada gadis pujaanku.

Sejak kelas I SMA saya rajin ke asrama putri  untuk betemu Lola, banyak yang mengira Lola kekasihku,   mungkin kamu juga berpikir demikian. Lola bukan kekasihku, kami hanya teman  biasa, saya mendekatinya agar bisa dekat denganmu, namun sayang setiap kali saya  mendekati kalian berdua kamu selalu menghindar dan memberi kesempatan kepada kami untuk berduaan. Saya terus berharap semoga Tuhan memberi kesempatan kepadaku untuk bisa jalan bersamamu, akhirnya kesempatan itu datang juga.  Waktu Lola sakit kamu memintaku untuk bersama-sama mengantarnya ke dokter. Betapa girang hatiku.  Jantungku terus bergetar saat duduk bersama di mobil angkutan kota, puas rasanya menatap wajahmu ketika matamu melempar pandangan ke tempat lain. Diam-diam hatiku menjerit, "Oh Tuhan.... mengapa saya  hanya sanggup membisu   sedangkan wanita pujaanku  tepat berada di depanku".  Saat menunggu antrian dokter saya sengaja mengambil tempat duduk  di sampingmu  agar bisa ngobrol walau hanya  sekenanya saja karena saya  gugup dan bingung setiap kali membuka pembicaraan, rasanya seperti seorang anak kecil yang sedang belajar berbicara.   Saya terkejut ketika kamu mau meladeni   pembicaraanku bahkan bisa diajak becanda ketika perasaan gerogi itu lenyap. Dan semakin jatuh cinta melihat matamu berbinar saat kamu tersenyum dan tertawa mendengar ceritaku. Ternyata kamu tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, seorang wanita cool yang sulit diselami isi hatinya.

Marni,
Saya sangat menyesal karena   tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatiku.  Sebentar lagi kita akan menyelesaikan pendidikan di  SMA, rasanya belum terlambat bila saat ini saya memiliki sedikit keberanian untuk menyampaikan perasaan cintaku via surat yang sangat berharga ini  “SAYA SANGAT MENCINTAIMU dan TERIMALAH SAYA SEBAGAI PACARMU”

Saya menunggu jawabanmu dan berharap semoga kamu tidak menolak cintaku.


Salamku selalu


Renata Robertus


Aku sempat tertegun setelah selesai membaca surat Renata, sepucuk surat cinta yang tidak penah disampaikan kepadaku. Mungkin karena takut ditolak.  Surat Renata mengingatkan kembali masa-masa indah waktu di SMA. Rekaman wajahnya seakan terpampang  lebar di hadapanku, seorang pemuda berkulit putih, tinggi dan bertubuh tegap. Memiliki wajah yang manis dan selalu melempar senyum yang sangat mempesona, baik hati dan penuh perhatian pada Lola. Renata juga memiliki segudang bakat, pandai bermain musik, pelukis dan seorang pemain volly yang handal. Dulu aku mengira Renata pacar Lola karena rajin menemui Lola di sekolah dan asrama, juga sepintas aku dapat membaca kalau Lola mencintainya. 

Semasa  SMA aku termasuk cewek yang sangat cuek pada cowok yang ingin mendekatiku, hanya satu yang ada dalam pikirankku yaitu belajar dan naik kelas/lulus mengingat otakku tidak terlalu encer  sehingga harus belajar lebih tekun dibanding teman-teman lain, juga hampir setiap ada kesempatan selalu diwanti-wanti orang tua agar tidak menyia-nyiakan pengorbanan mereka yang hanya berpenghasilan pas-pasan.  Bagiku memiliki pacar hanya menyita waktu dan menguras pikiran.  Namun kuakui  kalau sebenarnya aku juga pernah mengagumi Renata, bahkan diam-diam menyukainya tapi perasaan itu kupendam di lubuk hati terdalam karena aku tak ingin menyakiti  Lola.  Aku ingat buah Alpokat yang diberikan Renata kepadaku,  bahagia sekali  saat menerima  buah tersebut, tidak kuceritakan pada siapapun termasuk Lola sahabat karibku, saking sayangnya pada buah tersebut sampai tidak tega untuk dimakan dan akhirnya membusuk karena disimpan.  Laki-laki pertama yang pernah aku kagumi dan diam-diam telah mengisi alam khayalku adalah Renata. Surat cintanya tak pernah kuterima sampai tamat SMA dan terus disimpan sampai ajal menjemput.   Mungkin ini yang namanya takdir. Kembali  air mataku menetes, Renata telah pergi untuk selamanya. 

1 komentar: