Oleh : Agnes Purnama Ndendong
Setiap
kali membuka facebook seorang teman
wanita selalu menyapa dan menanyakan
khabarku, namanya Rina Ananda, dengan berjalannya waktu persahabatan kami
menjadi semakin akrab walaupun hanya di dunia maya. Bila lama tidak membuka facebook Rina bertanya mengapa aku tidak online. Aku heran mengapa Rina begitu baik padaku,
sedangkan aku sendiri tidak merasa ada yang istimewa dari pertemanan kami karena
hanya mengenalnya di facebook. Terkadang aku kesel kalau diajak chatting
terlalu lama, ada saja bahan obrolannya, aku sering pamit duluan karena
merasa telah banyak menyita waktuku. Anehnya
Rina tidak pernah kecewa bila baru disapa aku langsung pamit dengan alasan
sibuk. Pernah aku berniat untuk memblokir pertemanan kami tapi tidak tega, takut Rina tersinggung dan aku tak mau
menyakiti perasaanya.
Suatu
hari setelah kembali dari tugas luar kota
aku membuka facebook, ternyata ada pesan
darinya, “Marni, mengapa kamu tidak online? Kamu kemana?” dan pesan lain “Marni, bolehkah aku minta alamat emailmu? Aku
ingin mengirim sesuatu untukmu.” Mungkin Rina ingin mengirim brosur bisnis
seperti teman-teman lain yang meminta alamat emailku dan berharap aku tertarik untuk menekuni
pekerjaan yang ditawarkan. Agar tidak
kecewa aku membalas pesannya dan
mengirim alamat emailku.
Seminggu
setelah mengirim alamat email kepada Rina muncul sebuah email yang ternyata
bukan brosur bisnis online tetapi sebuah surat yang cukup panjang. Aku jadi
penasaran, mengapa Rina menulis surat buat aku, bukankah kami cuma kenal di facebook? Aku tak bisa langsung
membaca surat tersebut karena sedang menyelesaikan banyak pekerjaan sehingga kucopy ke word dan save ke salah satu folder, biar kubaca di rumah saja
agar tidak mengganggu aktivitas kantor.
Email
Rina terus mengganggu konsentarsi kerjaku, tapi aku berusaha untuk tidak
tergoda agar pekerjaanku tuntas. Setelah makan malam aku membuka laptop dan
mencari file surat Rina yang sudah tersimpan di word. Perlah-lahan kubaca surat
tersebut.
Dear Marni,
Sebelumnya aku minta maaf bila akan banyak menyita
waktumu untuk membaca emailku ini. Aku yakin pasti kamu kaget menerima emailku.
Aku mengirim email ini karena ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu sejak
pertama kali kita berteman di facebook. Pasti kamu penasaran mengapa aku
melakukan hal ini. Ketahuilah bahwa aku sebenarnya istri dari teman SMA mu yang
bernama Renata Robertus, kami menikah 15 tahun yang lalu dan dikaruniai 2 orang
anak laki-laki, yang sulung bernama Aldo dan si bungsu bernama Marcel. Keluarga
kami sangat harmonis, Renata seorang suami yang baik, pekerja keras dan sangat bertanggung jawab pada keluarga.
Namun sayang 5 tahun yang lalu Renata
meninggal akibat kanker tiroid. Kami telah melakukan berbagaimacam upaya untuk
menyembuhkan penyakitnya tetapi Tuhan menghendaki
lain, akhirnya aku dan anak-anak harus
pasrah ketika Tuhan memanggilnya.
Beberapa hari sebelum meninggal Renata memanggilku
ke kamar dan mengambil sebuah surat yang pernah menggoncang rumah tangga kami
pada awal pernikahan, lalu menarik aku
duduk bersama di tepian tempat tidur. Aku kaget ternyata surat tersebut
masih disimpannya. Sepucuk surat cinta Renata untuk teman SMAnya. Lalu mengatakan kepadaku, “Rina, aku tahu hidupku tidak akan lama lagi, sebelum aku meninggal
aku ingin mengakui segala dosaku dan meminta maaf padamu.” Sambil menggenggam kedua telapak tanganku dengan erat dan berali-kali
diciumnya. “Dulu aku pernah menyakitimu karena
surat ini, saat kita bertengkar aku merebutnya dari tanganmu agar tidak
dibakar dan aku berjanji untuk membakarnya sendiri, namun tanpa kamu ketahui
aku tidak melakukan apapun terhadap surat ini, bahkan kusimpan pada tempat
yang lebih aman agar tidak kamu temukan lagi. Surat ini pernah sangat berharga bagiku, namun
sudah tidak lagi, karena aku sangat mencintai dan menyayangi dirimu, aku minta
maaf atas semua kesalahanku.” Ketika Renata
berdiri dan akan menyalakan korek api secepat kilat aku merebut surat tersebut.
“Jangan dibakar.., aku akan menyimpannya.” Entah mengapa tiba-tiba
aku takut kehilangan surat yang pernah menyulut rasa cemburuku. Renata
bengong melihat reaksiku, aku meraih tubuhnya,
lalu memeluk dan mencium keningnya sambil berbisik “Sayang, biarkan aku menyimpan surat ini, aku sudah tidak cemburu dan sakit hati lagi sebab aku tahu kamu
sangat mencintai diriku”. Renata balik memeluk aku dengan erat, air matanya menetes di pundakku, berkali-kali dia
mencium kening dan pipiku. Aku tak mampu membendung gejolak perasaan, tangisku pecah dalam pelukannya, lama sekali aku
memeluknya, rasanya tak ingin lepas. Terlintas dalam ingatan kemungkinan buruk yang
akan terjadi pada diri Renata, aku sangat takut kehilangan dia.
Lima hari kemudian Renata meninggal dunia, separuh
jiwaku hilang bersamanya ke liang lahat,
saat itu aku merasa berada pada puncak kehancuran, aku kehilangan pegangan
hidup, yang tersisa hanya kepasrahan
pada Yang Maha Kuasa. Sudah lima tahun aku berkabung untuk kepergian Renata.
Marni sahabatku yang baik,
Ketahuilah bahwa aku berteman dan berusaha untuk akrab dengammu karena
surat cinta suamikku ditulis untukmu. Dulu secara tidak
sengaja aku menemukan surat tersebut di laci meja kerja Renata, aku sangat
cemburu karena surat kumal itu masih disimpan dengan baik, namun perlahan-lahan rasa cemburu itu lenyap dibasuh ketulusan cinta suamiku . Tiga bulan yang lalu
aku coba mencari namamu di facebook, ternayata kutemukan dan kamu menerima
perimintaan pertemananku. Setelah mengenalmu
aku ingin sekali menyampaikan surat tersebut, surat yang tidak sempat diberikan
oleh suamiku pada waktu kalian masih duduk di bangku SMA. Mungkin kamu cinta
pertamanya.
Berikut ini aku mengetik kembali isi surat tersebut karena aslinya dalam tulisan tangan dan kondisnya sangat lusuh sehingga
sulit dibaca.
Semoga kamu mau menjadi teman baikku
selamanya.
Salam persahabatan dariku,
Rina Ananda
Aku
membaca surat Rina dengan berlinang air mata, sangat mengharukan. Yah.. waktu SMA aku punya teman bernama Renata Robertus tapi
dia pacar teman akrabku. Mengapa dia menulis surat cinta untukku? Tanpa membuang
waktu aku langsung membaca surat Renata untukku.
Asput,
28 April 1990
Marni yang baik,
Sudah
lama sekali saya ingin mengungkapkan isi hatiku kepadamu namun tidak punya keberanian karena takut ditolak bahkan takut
dimusuhi. Tanpa kamu ketahui saya telah
memendam perasaan ini kurang lebih 3 tahun sejak kita masih duduk di kelas
I SMA.
Pasti kamu kaget ketika menerima suratku karena selama ini saya
dekat dengan sahabat karibmu Lola dan mengira saya pacarnya.
Saya tidak pernah mencintai Lola, saya mendekatinya karena ingin dekat
denganmu.
Saya yakin kamu tidak pernah tahu awal perjumpahan kita, tapi saya tidak akan
pernah lupa karena saat itu untuk pertama kalinya saya tertarik pada seorang
gadis. Kita bertemu di warung samping kompleks asrama putri, ketika saya dan
beberapa orang teman sedang nongkrong, tiba-tiba muncul 3 cewek yang hendak berbelanja di warung tersebut, salah satunya
kamu, gadis berambut panjang dan
memiliki mata yang indah. Saya terus melirikmu
tetapi kalian tidak mempedulikan
keberadaan kami di sana.
Saya jadi penasaran dan terus berharap semoga suatu saat kita bertemu lagi.
Ternyata harapanku terkabul, saya kegirangan ketika melihat kamu hadir
pada apel perdana tahun ajaran baru sekolah kita. Kamu berada di deretan
kelas I-A sedangkan saya di deretan kelas I-C. Sejak itu saya terus memperhatikanmu, dan berusaha untuk mendapat
seorang teman akrab di kelasmu agar
setiap hari saya bebas masuk dan keluar kelas tanpa ada yang curiga. Akhirnya saya
bisa akrab dengan Lola sahabat karibmu, kalau dipikir lucu juga entah mengapa
saya tidak berani menjadi temanmu.
Jantungku selalu bergetar bila melihat senyum manismu saat menghampiri Lola. Ingin sekali bisa
mendekatimu namun saya kehilangan nyali, kamu seorang gadis pendiam, tertutup
dan very cool, sulit sekali menebak isi hatimu, rasanya harus berpikir 1.000 kali untuk melalkukannya.
Tidak heran kalau kamu tidak memiliki pacar. Saya pernah bertanya pada
Lola, apakah kamu memiliki pacar, kata Lola kamu tidak ingin punya
pacar mungkin akan masuk biara. Wah... gawat kalau sampai masuk biara.
Naik ke kelas II saya kembali berharap
semoga kita memilih jurusan yang sama,
ternyata kamu masuk jurusan Fisika dan saya Biologi. Tak mengapa karena kita
akan sering praktikum bareng dan saya
masih punya kesempatan untuk dekat denganmu walau keberanian yang kumiliki cuma
pada jarak 2 meter dari dirimu. Saya
selalu gugup bila terlalu dekat dengamu.
Mungkin kamu lupa waktu murid kelasku dan
kelasmu sama-sama diminta untuk terlibat
dalam acara pesta di rumah guru Biologi kita, saya memberimu sebuah Alpokat yang baru jatuh dari
pohon. Waktu buah itu jatuh ramai-ramai
diperebutkan karena rasanya sangat enak dan saya berhasil mendapatkannya. Hampir semua teman
cewek meminta buah tersebut padaku keculi
kamu, namun tidak kuberikan kepada siapa pun, kusembunyikan buah tersebut di saku celana
panjangku dan saat pesta bubar diam-diam saya memberikan buah tersebut kepadamu. Bahagia sekali ketika kamu mau menerimanya karena untuk pertama kali saya bisa memberikan sesuatu pada gadis pujaanku.
Sejak kelas I SMA saya rajin ke asrama
putri untuk betemu Lola, banyak yang
mengira Lola kekasihku, mungkin kamu juga berpikir demikian. Lola bukan kekasihku, kami hanya teman biasa, saya mendekatinya agar bisa dekat
denganmu, namun sayang setiap kali saya mendekati kalian berdua kamu selalu menghindar
dan memberi kesempatan kepada kami untuk berduaan. Saya terus berharap semoga
Tuhan memberi kesempatan kepadaku untuk bisa jalan bersamamu, akhirnya
kesempatan itu datang juga. Waktu Lola
sakit kamu memintaku untuk bersama-sama mengantarnya ke dokter. Betapa girang hatiku. Jantungku terus bergetar saat
duduk bersama di mobil angkutan kota, puas rasanya menatap wajahmu ketika matamu melempar
pandangan ke tempat lain. Diam-diam hatiku menjerit, "Oh Tuhan.... mengapa saya hanya sanggup membisu sedangkan
wanita pujaanku tepat berada di depanku". Saat menunggu antrian dokter saya sengaja
mengambil tempat duduk di sampingmu agar
bisa ngobrol walau hanya sekenanya saja karena saya gugup dan bingung setiap kali membuka
pembicaraan, rasanya seperti seorang anak kecil yang sedang belajar berbicara. Saya terkejut ketika kamu mau meladeni pembicaraanku
bahkan bisa diajak becanda ketika perasaan gerogi itu lenyap. Dan semakin
jatuh cinta melihat matamu berbinar saat kamu tersenyum dan tertawa mendengar ceritaku. Ternyata kamu tidak seperti yang saya
bayangkan sebelumnya, seorang wanita cool yang sulit diselami isi hatinya.
Marni,
Saya sangat menyesal karena tidak memiliki keberanian untuk
mengungkapkan isi hatiku. Sebentar
lagi kita akan menyelesaikan pendidikan di SMA, rasanya belum terlambat
bila saat ini saya memiliki sedikit
keberanian untuk menyampaikan perasaan cintaku via surat yang sangat berharga
ini “SAYA SANGAT MENCINTAIMU
dan TERIMALAH SAYA SEBAGAI PACARMU”
Saya menunggu jawabanmu dan berharap semoga
kamu tidak menolak cintaku.
Salamku selalu
Renata Robertus
Aku
sempat tertegun setelah selesai membaca surat Renata, sepucuk surat cinta yang
tidak penah disampaikan kepadaku. Mungkin karena takut ditolak. Surat Renata mengingatkan kembali masa-masa
indah waktu di SMA. Rekaman wajahnya seakan terpampang lebar di hadapanku, seorang pemuda berkulit putih,
tinggi dan bertubuh tegap. Memiliki wajah yang manis dan selalu melempar
senyum yang sangat mempesona, baik hati dan penuh perhatian pada Lola. Renata
juga memiliki segudang bakat, pandai bermain musik, pelukis dan seorang pemain
volly yang handal. Dulu aku mengira Renata pacar Lola karena rajin menemui Lola
di sekolah dan asrama, juga sepintas aku dapat membaca kalau Lola mencintainya.
Semasa SMA aku termasuk cewek yang sangat cuek pada cowok yang ingin mendekatiku, hanya satu yang ada dalam pikirankku yaitu
belajar dan naik kelas/lulus mengingat otakku tidak terlalu encer sehingga harus belajar lebih tekun dibanding teman-teman lain,
juga hampir setiap ada kesempatan selalu diwanti-wanti orang tua agar tidak
menyia-nyiakan pengorbanan mereka yang hanya berpenghasilan pas-pasan. Bagiku memiliki pacar hanya menyita waktu dan menguras
pikiran. Namun kuakui kalau sebenarnya aku juga pernah mengagumi
Renata, bahkan diam-diam menyukainya tapi perasaan itu kupendam di lubuk hati
terdalam karena aku tak ingin menyakiti Lola. Aku ingat buah Alpokat yang diberikan Renata kepadaku, bahagia sekali saat menerima buah tersebut, tidak
kuceritakan pada siapapun termasuk Lola sahabat karibku, saking sayangnya pada
buah tersebut sampai tidak tega untuk dimakan dan akhirnya membusuk karena
disimpan. Laki-laki pertama yang pernah aku
kagumi dan diam-diam telah mengisi alam khayalku adalah Renata. Surat cintanya
tak pernah kuterima sampai tamat SMA dan terus disimpan sampai ajal menjemput. Mungkin ini yang namanya takdir. Kembali air mataku menetes, Renata telah pergi untuk
selamanya.

Cerpen ini hanya cerita fiksi bukan kisah nyata
BalasHapus