Kotaku yang indah menghiasi kaki Pegunungan Taman Wisata Alam Ruteng

Selasa, 25 Juni 2019

TEMAN MAIN MASA KECIL




Masa kecil adalah masa di mana  dapat bermain sesuka hati tanpa aturan pada  otak anak, dapat tertawa lepas, tertawa tanpa beban.  Setiap kali melihat foto ini saya selalu tersenyum sendiri, ingat  kenangan indah masa kecil. Hampir setiap hari  kami  main bersama, setiap pulang sekolah pasti baku cari. Ada saja permainan setelah pulang sekolah. 

Kami akrab sejak kecil, kami tumbuh bersama karena rumah kami berdekatan dan orang tua kami bersaudara. Bukan hanya teman bermain di rumah tapi juga di sekolah, kami sekolah di TK Inviolata Ruteng. Setelah masuk SD baru pisah sekolah. Waktu TK kami sangat mandiri, pergi dan pulang sekolah berjalan kaki tanpa ada yang mengantar atau menjemput karena kota Ruteng masih sepi,  kendaraan yang lalu lalang di jalan masih sangat sedikit. Sesekali dijemput mobil  orang tua enu Erny atau enu Pipin.

Setiap kali ke sekolah selalu   ada rasa cemas   saat melintasi  rumah nenek Mutis, dan berharap anjing  nenek tidak berkeliaran  di depan rumah sebab anjingnya  sangat galak. Syukur kami tidak pernah digigit. Bila anjing tersebut menggonggong dan mendekat, cepat-cepat  kami  duduk jongkok dengan tangan mengepal menjepit jempol sambil menjulurkan lidah  yang ditekuk keatas dan dijepit gigi depan. Lucu dan aneh, entah siapa penemu cara  unik ini, yang pasti hanya orang Manggarai yang biasa menggunakannya. Memang terbukti cukup ampuh untuk menghadapi anjing galak. Kalau  tidak percaya bisa dicoba...πŸ˜„ 
                                                                                       
Tempat bermain selalu bergilir  dari rumah ke rumah. Kompak saling menghampiri  dengan memanggil nama secara bersama sama dengan teriakan dan canda tawa. Jenis permainan sudah didiskusikan sebelum berkumpul. 

Paling berkesan kalau bermain di rumah enu Pipin karena sebelum bermain harus tidur siang dan menyelesaikan tugas bersih rumah.    Mama Evi sangat disiplin mendidik anak-anak. Lucunya  di rumah enu Pipin kami menjadi anak rajin, melakukan apa saja dengan senang hati tanpa dipaksa. Kakak sepupu yang tinggal bersama  kami sering ngomel bila  melihat saya  rajin bekerja di rumah enu Pipin tapi di rumah sendiri malas.πŸ˜„   Saat jam tidur siang kami jarang tidur,  ngobrol  dibalik selimut,  bila ada yang masuk ke kamar, kami pura-pura tidur  pulas. Ada saja bahan obrolan dan tidak pernah habis. Setelah bangun tidur langsung ngepel   rumah dan membersihkan kamar mandi. Tugasnya enu  Pipin  sering dikeroyok bersama-sama demi sebuah persahabatan. Secara tidak langsung mama Evi  sudah mendidik kami juga. Terima kasih mama Evi yang jauh di sana.😒  

Banyak permainan yang biasa kami lakukan setelah  ngepel dan membersihkan kamar mandi, antara lain main karet, kelereng, lompat tali, tangkap capung atau kecebong di sungai kecil dekat rumah dan lain-lain. Tidak hanya permainan anak perempuan, juga permainan anak laki-laki, salah satunya memanjat pohon.  Hampir semua pohon di  sekitar rumah dan kebun sudah kami panjat, kalau ketahuan pasti dimarahi, saya ingat saat  panjat pohon jeruk asam di belakang rumahnya enu Pipin, melihat kami  bertengger di atas dahan pohon  om John langsung ambil senapan angin dan mengarahkan moncongnya ke kami. Kami ketakutan dan  cepat-cepat turun. Kenakalan kecil  yang saya rindukan πŸ’“πŸ˜ƒ  

Tidak hanya bermain, kami juga biasa belajar bersama atau kerja PR bersama. Karena saya memiliki  bakat menggambar, sering belajar menggambar atau minta digambarkan pemandangan atau apa saja. Walaupun sangat akrab,  tetap ada perselisihan. Kami  pernah bertengkar  akan tetapi itu hanya terjadi beberapa saat saja kemudian baikan dan melupakan kejadian itu tanpa dendam.  Diantara kami, enu Pipin paling pemberani, pernah saya berantam dengan teman lain, dibela dan anak tersebut diancam pukul oleh enu Pipin. Kami saling menyayangi.πŸ’“ Persahabatan kami sulit dipisahkan,  seperti anak-anak jaman sekarang yang sulit dipisahkan dari HP bila sudah kecanduan.

Liburan panjang merupakan saat yang paling kami nantikan  setiap tahun,  karena dapat bermain sesuka hati. Terkadang bermain bersama  saudara laki-laki,  membuat pondok di kebun dan main masak benaran. Walau  nasinya mentah, menjadi bubur atau hangus tetap disantap dengan sangat bersemangat. Lucunya wadah makanan bukan piring tetapi daun labu yang dipetik dikebun dan jari-jari mungil kami lincah memasukkan makanan kedalam mulut tanpa  memikirkan apakah  sudah mencuci tangan atau belum.😁  

Pernah ada pengalaman menarik,  pada satu waktu kami diajak   saudara  laki-laki memetik nggeluk  di belakang rumah seorang tetangga yang rumahnya  terletak di pinggir sungai kecil belakang pasar Ruteng. Saat kak Petriks sedang memetik nggeluk tiba-tiba seorang anak perempuan teriak mengusir kami dan mengancam akan ditembak bapaknya pakai pistol, nama anak perempuan itu Lisa. Mendengar ancaman tersebut  kak Petriks langsung melompat dari pohon dan mengajak kami lari menyebrangi sungai. Karena terburu-buru tanpa kami sadari  Peter  tertinggal di tempat itu. Akhirnya kak Petriks harus kembali lagi untuk menjemput Peter yang sedang asyik bermain di pinggir kolam ikan. Belakangan baru kami tahu ternyata ayah Lisa bukan seorang polisi, tetapi seorang  pegawai sipil di kantor polisi. Jaman dulu  anak-anak sangat takut  pada pak polisi dan pak tentara karena  memiliki pistol yang konon sekali tembak langsung mati. Kebetulan rumah kami berdekatan  dengan asrama polisi dan asrama tentara. Dalam benak kami, lebih baik   tidak bermasalah dengan anak-anak polisi atau tentara karena takut ditembak mati.πŸ˜ƒ

Hari demi hari, kami semakin tumbuh besar dan sekarang sudah menjadi emak-emak. Hubungan kami sedikit merenggang karena kesibukan masing-masing.  Kesempatan untuk berkumpul dan melepas rindu  jarang terjadi. Kami bisa bertemu hanya pada saat acara keluarga seperti di foto ini, sedang mengikuti acara kenduri saudara kami alm. kak Patriks Tjangkung.

Banyak kenangan manis  yang belum dituangkan  dalam tulisan ini, semoga satu waktu bisa digoreskan kembali menjadi  sebuah cerita menarik untuk  anak cucu kami  kelak.

catatan : nggeluk = buah nangka  kecil,  tidak berkembang menjadi buah yang berukuran besar, rasanya sepat. Sebelum dimakan biasanya  dibumbui garam, gula, cabe, asam atau ditambah bumbu lain sesuai selera, lalu  ditumbuk pake cobek atau lesung. Sangat disukai oleh orang Manggarai...😁😁

Tidak ada komentar:

Posting Komentar