Oleh :
Agnes Purnama Ndendong
Agnes Purnama Ndendong
Di sawah terlihat ibu-ibu memasukkan semaian ke
dalam kubangan lumpur, nampak
seperti sedang membawakan tarian menanam padi, indah sekali. Beberapa
dari mereka sambil menguyah sirih, sesekali membuang ludah yang telah bercampur
sirih ke samping lalu terus menancapkan semaian ke
dalam perut bumi, tak peduli teriknya sinar matahari.
Gemercik air jernih dari saluran irigasi terdengar
sampai telinga, terasa segar dan menyejukan jiwa. Hamparan sawah membentang
luas membentuk jaring laba-laba. Suatu pemadangan elok nan asri.
Aku menikmati dari teras
pondok milik tante Marta seorang janda tua yang lama ditinggal mati suaminya. Ikut tante Marta ke sawah merupakan rutinitas saat liburan. Terkadang sendiri mencari sepi sambil menikmati panorama alam.
Sudah lima tahun aku mengabdi sebagai petugas medis di Desa
tante Marta. Sebuah desa yang jauh dari
keramaian kota dengan akses jalan yang sangat memprihatinkan. Bukan dibuang tetapi atas kemauan sendiri. Kedua orang tua pun sangat tidak setuju,
namun aku memiliki alasan khusus yang
tidak pernah kuceritakan kepada siapapun.
Ingin bertemu Randy, seseorang yang dekat di hati namun jauh di mata. Setelah
pertengkaran hebat enam tahun yang lalu Randy menghilang. “Entah dimana adamu,
aku hanya tahu kau hanya menghadirkan getaran-getaran indah yang kuubah menjadi
bahagia. Tak ada khabar yang kuterima, selain bisikanmu yang kutemui pada sisa
mimpi setiap malam. Mengapa gelisah dan rinduku tak pernah mati? Kutunggu
khabarmu yang masih diam, apakah engkau baik-baik saja?” Jerit hatiku.
“Kak Yanti ngelamun ya? Ayo kak, kita siapkan makan siang.” Sebuah suara mengejutkan aku,
lamunan mendadak buyar.
“Oh.. ia siska,” aku buru-buru beranjak lalu masuk ke dalam pondok untuk menyiapkan makanan.
Teras pondok telah penuh
ibu-ibu yang sedang melepas lelah. Ada yang mengipas-ngipas tubuh sambil direbahkan ke dinding dan sebagian berebutan air untuk melepas dahaga. Aku
dan siska sibuk menyiapkan makanan. Nikmat sekali walau hanya hidangan sederhana yaitu nasi, sayur lomak dan ikan tembang asin. Bagiku berkumpul bersama orang-orang kampung
memiliki kebahagian tersediri, sangat dihargai dan disayangi, ingin rasanya
tetap berada diantara mereka.
“Minggu depan pak Markus dan
ibu merayakan pesta emas pernikahan.” Suara tante Tina mengundang perhatian ibu-ibu yang sedang
makan.
“Wah.. pasti pestanya
meriah,” sahut tante Marta.
“Ia, dan semua anak-anak sudah sukses.” Lainnya tak mau ketinggalan.
“Hebat ya,” seperti
dikomando beberapa ibu berkomentar.
“Apakah semua anak akan hadir?
Apakah Randy juga?” mendadak
pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam benakku.
Sejak mendengar
informasi rencana syukuran keluarga
Randy hatiku terus gelisah, kurang konsentrasi dan sering ngelamun, seperti sedang mengidap penyakit
jiwa ringan. Malamku berganti malam yang menghimpit mengganggu tidur.
“Akhir-akhir ini kamu sering
ngelamun Yan.”
“Ttiiidak kok.” Mengelak dengan
sedikit gugup saat ditegur Cristin teman sekerjaku.
“Kamu kehilangan keceriaan, ada
apa Yan ?” Cristin tak mau kalah.
“Sedang kurang sehat.”
Rasa gelisah kian
bertambah ketika mendengar semua anak-anak pak Markus telah berdatangan karena
acara syukuran tinggal satu hari
lagi. Kebiasaan nongkrong depan teras rumah sambil
bercengkrama bersama para ibu dan
anak-anak kampung mendadak lenyap. Aku memenjarakan diriku sendiri dalam bilik sempit nan sederhana di sebuah rumah dinas
Puskesmas Pembantu yang hanya berjarak 100
meter dari rumah Randy. Keramaian di luar tidak kuperdulikan.
Tiba-tiba Siska mengetuk pintu kamar dan memanggilku “Ka
Yanti, ka Yanti.... buka pintunya.” Aku
diam saja sambil membhatin “ngapain sih
Siska gangguin aja”. Dengan
sangat berat aku membukakan pintu. Wajah Siska nampak serius dan cemas.
“Ada apa Siska?” aku jadi
penasaran, “Kakak di minta ke rumah Om
Markus, istrinya sakit.” Duniaku terasa runtuh, kepala mendadak pening, lutut terasa ngilu.
“Mengapa wajah kakak pucat?
kakak sakit?” Siska menatapku cemas. “Tidak, cuma kurang tidur, tolong ambilkan
air putih.” Aku merebahkan tubuh di sebuah kursi kayu sambil
berusaha memulihkan perasaan.
Setelah semua peralatan
medis kumasukkan ke dalam tas lalu bergegas menuju rumah pak Markus. Langkah yang biasanya ringan
terasa berat, perasaan tak karuan kian berkecamuk, sedang ada pergulatan di sana.
“Cepat bu, penyakit mama kambuh.”
Sebuah suara menyuruhku
bergegas. Secepat kilat aku
menemui istri pak Markus di kamar, rasa gugup hilang seketika.
Wanita itu berbaring lemas,
aku memeriksa kesehatannya dengan
sangat teliti mengingat sebentar lagi
dia akan merayakan hari kebahagiaan, jangan sampai absen pada
acara tersebut.
“Bagaimana kondisi ibu
nak Yanti?” Pak Markus bertanya cemas.
“Ibu tidak apa-apa, cuma
kecapean, perlu istirahat yang cukup.”
“Syukur kalau begitu.” Wajah pak Markus kembali ceria.
Aku hanya memberikan beberapa butir vitamin pemulihan tenaga.
“Sebaiknya ibu istirahat
saja di kamar,” kami meninggalkan istri
pak Markus lalu pindah ke ruang tamu.
“Aku pamit pak.”
“Minum dulu bu.” Seorang wanita cantik muncul membawakan
beberapa cangkir kopi panas, baru kulihat wajahnya, mungkin salah satu menantu
yang datang dari Jawa.
“Aduh, maaf merepotkan,” aku sedikit risih berada diantara anak dan
menantu pak Markus.
“Tidak kok.” Wanita itu berkata ramah.
Saat sedang menikmati kopi
tiba-tiba sebuah suara muncul dari pintu depan
“Sore semuanya.” Aku menoleh, laki-laki
itu sangat tidak asing, matanya yang bulat besar terpaku padaku seperti tak percaya dengan apa yang sedang dilihat. Semua
kegirangan menyambut kedatangannya. “Akhirnya kamu pulang nak, kami sangat
merindukanmu,” pak Markus menangis sambil memeluk laki-laki itu.
“Ini Randy, anak ketiga saya
yang bekerja di Papua,” Pak Markus memperkenalkan Randy padaku, namun wajahnya
dingin tanpa ekspresi, dia mengulurkan tangan seperti terpaksa, aku pun
menerimanya dengan kecut. Buru-buru kuhabisi
kopi
yang masih tersisa lalu pamit pulang. Pikiranku
semakin tak karuan, “mengapa dia tidak menyapaku, atau melemparkan sebuah
senyuman? Wajahnya tidak bersahabat, apakah dia membenciku?” Bhatinku miris.
Keesokan hari hampir seluruh
warga kampung sibuk di rumah pak Markus,
bergotong royong mempersiapkan acara yang telah dinanti-nantikan. Aku enggan terlibat, tidak ingin bertemu Randy, rasa benci mulai
tumbuh dalam hati. Ada penyesalan luar
biasa, enam tahun merindukannya ternya tidak diperdulikan. Dadaku terasa
remuk, suara musik dari rumah pak Markus seakan turut
mensayat-sayat hatiku. Aku meratapi nasibku, seorang wanita bodoh yang telah menyia-nyiakan
waktu dan kesempatan. Begitu banyak laki-laki yang telah kutolak, kutinggalkan
orang tua, saudara dan teman yang sangat
mencintaiku hanya karena
Randy.
“Yanti, Yanti... buka pintunya.” Sura tante Marta terdengar sayup, aku
meringkuk di balik selimut tebal. Tidak kuperdulikan teriakan tante Marta, aku ingin
sendiri tanpa siapa-siapa.
“Yanti... ayo buka pintunya
nak.” Berkali-kali pintu kamar di gedor.
Dengan terpaksa aku membukakan
pintu, mataku sembab, tatapanku nanar, aku khawatir tante Marta mencurigai keadaanku.
“Mengapa kamu nak?” Tante
marta memperhatikan diriku yang tidak seperti
biasa.
“Matamu sembab dan wajahmu pucat, kamu sakit?” Aku hanya menggeleng. Tangan tante Marta
mengusap wajahku.
“Sekarang kamu mandi,
sebentar lagi misa syukur akan dimulai.” Aku mengangguk tak bersemangat.
Sebenarnya aku tidak ingin
hadir dalam acara itu, namun kebaikan
pak Markus dan istri meghilangkan semua kebencian dan kegalauanku.
Aku mengambil tempat duduk di
pojok belakang, tante Marta mengajakku ke depan namun kutolak. Para undangan
berdatangan, baik dari kampung mapun kota, hampir seluruh tempat duduk terisi
penuh. Keluarga besar pak Markus diberi tempat khusus . Lengkap semuanya mulai dari
yang sulung sampai bungsu dengan pasangan dan anak masing-masing. Sebelum misa
dimulai aku asyik memperhatikan mereka satu persatu. Hanya Rendy dan seorang suster yang tidak
berpasangan. Dia kelihatan sedikit gelisah, beberapa kali berdiri dan mondar
mandir sambil melirik para undangan, seperti ada yang sedang dicari. Saat
matanya tertuju padaku jantung berdegup
kencang, aku jadi salah tingkah, hanya sebentar
menatap tanpa senyum lalu kembali duduk. Mungkin sedang memastikan kehadiranku. Hatiku kembali bergejolak.
Ketika MC mengantar para undangan ke acara santap malam bersama, aku pamit pulang. Mereka menikmati pesta yang meriah dengan hidangan beraneka macam, diiringi alunan
musik lagu-lagu nostalgia dan pop terkini, namun semuanya tidak mempengaruhi
hatiku yang kian merana dan terpuruk.
Sikap Randy membuat aku ingin cepat-cepat meninggalkan desa yang telah
menjadi bagian dari hidupku. Aku butuh
suasana yang bisa menghilangkan segala
kekecewaan dan sakit hati, sampai Randy kembali ke Papua.
“Cristin, saya ijin selama 2 minggu, besok pulang ke rumah orang
tua.”
“Ada keperluan apa Yanti?” Cristin
menatap kaget.
“Urusan penting, juga butuh refreshing.”
“Yah.. sebaiknya begitu, kamu kelihatan kurang sehat, saya akan menghandel
semua pekerjaanmu teman.” Cristin meraih tanganku lalu digegam seakan ingin
memberikan keyakinan.
“Terima kasih.” Aku memeluk Cristin
penuh haru.
Baru seminggu di rumah orang
tua, muncul sebuah sms dari nomor tak
dikenal “mama Marta sakit keras,
sebaiknya ibu pulang.” Awalnya ragu,
mungkin ada yang sedang jahil, tapi rasa cemas terus merasuk. “Tante Marta
sudah seperti orang tua sendiri, aku tak mau dia sakit, harus kusembuhkan”,
bahtinku.
Buru-buru kuraih tas yang
masih tergeletak di lantai kamar tidur, kumasukan semua pakaian dan barang kebutuhan, jangan sampai ada yang tertinggal,
lalu pamit “mama, saya pulang ke
desa sekarang.”
Mama sangat terkejut “katamu
liburan dua minggu, sekarang baru satu
minggu”, perasaan kecewa tergambar di wajah wanita tua itu, iba hatiku
melihatnya, mungkin belum puas melepas ridu.
“Ia ma, tante Marta sakit
keras, saya harus pulang.” Kucium kedua pipinya lalu pergi.
Untung bus terakhir belum berangkat, aku duduk pada
deretan paling belakang. Perjalanan panjang dan melelahkan membuat seluruh
tubuh terasa pegal, bayangan tante Marta terus
menari-nari dalam pikiranku, rasa cemas
kian merasuk.
Saat memasuki perkampungan
aku berpapasan dengan Siska anak tante Marta, wajahnya ceria seperti biasa,
bahkan dia sangat gembira melihat kedatanganku. “Ka Yanti, syukur kakak sudah pulang, saya dan mama kangen.” Lalu memelukku erat.
“Bagaimana keadaan tante Marta?” Aku bertanya cemas.
“Mama baik, sekarang sedang
ke sawah.” Ternyata aku dibohongi seseorang. Rasa lega dan kecewa berbaur jadi
satu. “Siapakah yang telah mengirim sms itu”? Sekejap semangatku hilang, langkah rapuhku
mengalir, setapak demi setapak menuruni
jalan desa yang berbatu dan kelikir. “Saya telah ditipu.... saya telah
ditipu....” Tangis hatiku.
Di rumah hanya mampir
sebentar lalu ke sawah, ingin cepat-cepat betemu tante Marta. Jalan menurun dan
menanjak menjadi tak terasa, hilang ditelan rasa kecewa mendalam, “mungkin tante Marta tahu si
pengirim sms, akan kuhajar orang itu” aku membhatin.
“Tante Marta, tante Marta....”
Aku memanggil-manggil namun tak ada jawaban, hanya terdengar percikan air dan kicauan burung. Hamparan sawah
memandangku bisu. Kuhempaskan tubuh di teras pondok, lalu duduk selojoran
sambil menerawang jauh, melepas lelah dari kejenuhan. Biarlah semua kuhadapi meski sukma tak rela.
Aku harus tegar menghadapi walau bercucuran air mata.
“Selamat sore”, tiba-tiba
sebuah sura mengejutkan aku, jantungku bergetar, tak percaya dengan apa yang baru
kulihat. Seperti melihat hantu di siang bolong. Aku diam, mulutku terkatup
rapat, bibir tak mampu digerakkan.
Randy menghampiriku, aku
semakin gugup. Ingin rasanya mencari perlindungan, dalam balutan selimut
tebal di kamar sempitku. Aku hanya bisa
menutup mata dan membenamkan kepalaku dalam-dalam diantara kedua lutut. Seperti
seorang pencuri yang sedang ketakutan setelah kepergok warga.
“Yanti, Yanti... mengapa
kamu seperti ini?” Randy mengguncang tubuhku. Entah mengapa pandanganku
berubah gelap lalu tubuh roboh ke lantai. Randy panik dan kebingungan,
berkali-kali memanggil namaku sambil
menggoncangkan tubuh yang terkulai lemas.
Setelah sadar kudapati
tubuhku berada dalam pangkuannya. Randy tersenum lega, aku gerogi dan berusaha
bangkit, namun tangan kokoh Randy tidak mebiarkan aku pergi lalu
mendekapku erat-erat. Aroma keringat menusuk hidung, baju kaosnya basah penuh peluh. Perlahan tetesan air mata mengalir ke pundaku menembus sampai relung hati. Tak percaya Randy tangisi aku, rasa benci hilang
seketika, kubenamkan wajahku di dadanya,
untuk mendapatkan kedamaian di sana.
“Jangan pergi dariku Yanti”,
Randy berbisik lirih. Aku mengangguk pelan, Randy semakin erat memelukku. “Kamu
yang mengirim sms itu?” Randy diam,
menatapku dalam-dalam. “Yah... aku yang melakukannya, aku rindu padamu.” Balik
aku memeluknya, kucium kedua pipi lalu kening.
Hatiku tak mungkin membohongi jiwa, rasa rindu milikku pun ada untuknya.
Tiba-tiba takut kehilangan Randy merasuk hati, mungkin
esok atau lusa dia akan kembali ke Papua. “Kapan pulang?” Mendengar pertanyaanku Randy hanya tersenyum, aku bingung dan penasaran.
Diraihnya tanganku lalu digenggam, “saya tidak kembali, kutambatkan bidukku di
sini karena engkaulah pelabuhan hatiku”. Bersorak riang jiwaku, kuncup-kuncup
bunga bermekaran di sana. Akhirnya Tuhan menyatukan kami kembali.


