Kotaku yang indah menghiasi kaki Pegunungan Taman Wisata Alam Ruteng

Selasa, 03 September 2013

Pelabuhan Hati



 

Oleh : 
Agnes Purnama Ndendong 



Di sawah terlihat ibu-ibu memasukkan semaian  ke  dalam kubangan  lumpur, nampak  seperti sedang membawakan tarian menanam padi, indah sekali.    Beberapa dari mereka  sambil menguyah sirih,  sesekali membuang ludah yang telah bercampur sirih ke samping  lalu terus menancapkan semaian  ke  dalam perut bumi, tak peduli teriknya sinar matahari.

Gemercik air jernih dari saluran irigasi terdengar sampai telinga, terasa segar dan menyejukan jiwa. Hamparan sawah membentang luas membentuk jaring laba-laba. Suatu pemadangan elok nan asri.  

Aku menikmati   dari teras pondok milik tante Marta seorang janda tua yang lama ditinggal mati suaminya.  Ikut tante Marta ke  sawah merupakan rutinitas  saat liburan. Terkadang  sendiri mencari  sepi sambil menikmati  panorama alam. 

Sudah lima  tahun aku mengabdi sebagai petugas medis di Desa tante Marta. Sebuah desa yang  jauh dari keramaian kota dengan akses jalan yang sangat memprihatinkan.  Bukan dibuang  tetapi atas  kemauan sendiri.  Kedua orang tua pun sangat tidak setuju, namun  aku memiliki alasan khusus yang tidak pernah kuceritakan kepada siapapun.  Ingin bertemu Randy, seseorang yang  dekat di hati namun jauh di mata. Setelah pertengkaran hebat enam tahun yang lalu Randy menghilang. “Entah dimana adamu, aku hanya tahu kau hanya menghadirkan getaran-getaran indah yang kuubah menjadi bahagia. Tak ada khabar yang kuterima, selain bisikanmu yang kutemui pada sisa mimpi setiap malam. Mengapa gelisah dan rinduku tak pernah mati? Kutunggu khabarmu yang masih diam, apakah engkau baik-baik saja?” Jerit hatiku.

“Kak Yanti ngelamun ya?   Ayo kak,  kita siapkan  makan siang.” Sebuah suara mengejutkan aku, lamunan mendadak buyar.

“Oh.. ia siska,”  aku buru-buru beranjak lalu  masuk ke dalam pondok untuk menyiapkan makanan. 

Teras pondok telah penuh ibu-ibu yang sedang melepas lelah. Ada yang mengipas-ngipas tubuh sambil  direbahkan  ke  dinding dan sebagian berebutan  air untuk melepas dahaga.   Aku dan siska  sibuk menyiapkan makanan.  Nikmat sekali walau  hanya hidangan sederhana  yaitu nasi, sayur lomak dan ikan  tembang asin.  Bagiku berkumpul bersama orang-orang kampung memiliki kebahagian tersediri, sangat dihargai dan disayangi, ingin rasanya tetap berada diantara mereka.

“Minggu depan pak Markus dan ibu merayakan pesta emas pernikahan.” Suara tante Tina   mengundang perhatian ibu-ibu yang sedang makan.

“Wah.. pasti pestanya meriah,” sahut tante Marta.

“Ia, dan semua  anak-anak  sudah sukses.” Lainnya tak mau ketinggalan.

“Hebat ya,” seperti dikomando beberapa ibu  berkomentar.

“Apakah semua anak akan hadir? Apakah Randy juga?”  mendadak pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam benakku.

Sejak mendengar informasi  rencana syukuran keluarga Randy hatiku terus   gelisah, kurang  konsentrasi dan sering  ngelamun, seperti sedang mengidap penyakit jiwa ringan. Malamku berganti malam yang menghimpit mengganggu tidur.

“Akhir-akhir ini kamu sering ngelamun Yan.” 

“Ttiiidak kok.” Mengelak dengan sedikit gugup saat ditegur Cristin teman sekerjaku.

“Kamu kehilangan keceriaan, ada apa Yan ?”   Cristin  tak mau kalah.

“Sedang  kurang sehat.”

Rasa gelisah  kian bertambah ketika mendengar semua anak-anak pak Markus telah berdatangan   karena acara syukuran tinggal satu  hari lagi.  Kebiasaan  nongkrong depan teras rumah sambil bercengkrama bersama  para ibu dan anak-anak kampung mendadak lenyap. Aku memenjarakan diriku sendiri dalam bilik  sempit nan sederhana di sebuah rumah dinas Puskesmas Pembantu yang  hanya berjarak 100 meter  dari rumah Randy.  Keramaian di luar  tidak kuperdulikan.

Tiba-tiba  Siska mengetuk pintu kamar dan memanggilku “Ka Yanti, ka Yanti....  buka pintunya.” Aku diam saja sambil membhatin “ngapain sih  Siska gangguin  aja”. Dengan sangat berat aku membukakan pintu. Wajah Siska nampak serius dan cemas.

“Ada apa Siska?” aku jadi penasaran, “Kakak  di minta ke rumah Om Markus, istrinya sakit.”  Duniaku terasa  runtuh, kepala mendadak pening,  lutut terasa ngilu.

“Mengapa wajah kakak pucat? kakak sakit?” Siska menatapku cemas. “Tidak, cuma kurang tidur, tolong ambilkan air putih.” Aku merebahkan tubuh di sebuah kursi kayu   sambil berusaha memulihkan perasaan.

Setelah semua peralatan medis kumasukkan ke dalam tas lalu bergegas menuju  rumah pak Markus. Langkah yang biasanya ringan terasa  berat,  perasaan tak karuan kian berkecamuk,  sedang ada pergulatan di sana.

 “Cepat bu, penyakit mama  kambuh.”  Sebuah suara menyuruhku  bergegas.  Secepat kilat aku menemui istri pak Markus di kamar, rasa gugup  hilang seketika.

Wanita itu berbaring lemas, aku memeriksa  kesehatannya dengan sangat   teliti mengingat sebentar lagi dia akan merayakan hari kebahagiaan, jangan sampai   absen  pada acara  tersebut.

“Bagaimana kondisi ibu nak  Yanti?” Pak Markus bertanya cemas.

“Ibu tidak apa-apa, cuma kecapean, perlu istirahat yang cukup.”  

“Syukur kalau begitu.”  Wajah pak Markus  kembali ceria.

Aku  hanya memberikan beberapa butir  vitamin  pemulihan tenaga.    

“Sebaiknya ibu istirahat saja di kamar,”  kami meninggalkan istri pak Markus lalu pindah ke ruang tamu.

“Aku pamit pak.”

“Minum dulu bu.”  Seorang wanita cantik muncul membawakan beberapa cangkir kopi panas, baru kulihat wajahnya, mungkin salah satu menantu yang datang dari Jawa.

“Aduh, maaf merepotkan,”  aku sedikit risih berada diantara anak dan menantu pak Markus.

“Tidak kok.”  Wanita itu berkata ramah. 

Saat sedang menikmati kopi tiba-tiba sebuah suara muncul dari pintu depan  “Sore  semuanya.” Aku menoleh, laki-laki itu sangat tidak asing, matanya yang bulat besar terpaku padaku seperti tak  percaya dengan apa yang sedang dilihat. Semua kegirangan menyambut kedatangannya. “Akhirnya kamu pulang nak, kami sangat merindukanmu,” pak Markus   menangis sambil memeluk laki-laki itu.

“Ini Randy, anak ketiga saya yang bekerja di Papua,” Pak Markus memperkenalkan Randy padaku, namun wajahnya dingin tanpa ekspresi, dia mengulurkan tangan seperti terpaksa, aku pun menerimanya dengan kecut. Buru-buru  kuhabisi   kopi yang masih tersisa lalu pamit pulang.  Pikiranku semakin tak karuan, “mengapa dia tidak menyapaku, atau melemparkan sebuah senyuman?  Wajahnya  tidak bersahabat, apakah dia membenciku?”  Bhatinku miris. 

Keesokan hari hampir seluruh warga kampung sibuk di rumah  pak Markus, bergotong royong mempersiapkan acara yang telah dinanti-nantikan.     Aku enggan terlibat,  tidak ingin bertemu Randy, rasa benci mulai tumbuh dalam hati.  Ada penyesalan luar biasa, enam tahun merindukannya ternya tidak diperdulikan. Dadaku terasa remuk,  suara musik  dari rumah pak Markus seakan turut mensayat-sayat hatiku. Aku meratapi  nasibku,  seorang wanita bodoh yang telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Begitu banyak laki-laki yang telah kutolak, kutinggalkan orang tua, saudara dan teman  yang sangat mencintaiku    hanya karena  Randy.

“Yanti, Yanti...  buka pintunya.”  Sura tante Marta terdengar sayup, aku meringkuk di balik selimut  tebal. Tidak  kuperdulikan teriakan tante Marta, aku ingin sendiri tanpa siapa-siapa.

“Yanti... ayo buka pintunya nak.” Berkali-kali pintu kamar di gedor.

Dengan terpaksa aku membukakan pintu, mataku sembab, tatapanku nanar,  aku khawatir tante Marta mencurigai keadaanku.

“Mengapa kamu nak?” Tante marta memperhatikan diriku yang  tidak seperti biasa.

“Matamu sembab dan  wajahmu pucat, kamu sakit?”  Aku hanya menggeleng. Tangan tante Marta mengusap wajahku.

“Sekarang kamu mandi, sebentar lagi misa syukur akan dimulai.” Aku mengangguk tak bersemangat.

Sebenarnya aku tidak ingin hadir dalam acara itu, namun  kebaikan pak Markus dan istri meghilangkan semua kebencian dan kegalauanku.

Aku mengambil tempat duduk di pojok belakang, tante Marta mengajakku ke depan namun kutolak. Para undangan berdatangan, baik dari kampung mapun  kota, hampir seluruh tempat duduk terisi penuh. Keluarga besar pak Markus  diberi  tempat khusus . Lengkap semuanya mulai dari yang sulung sampai bungsu dengan pasangan dan anak masing-masing. Sebelum misa dimulai aku asyik memperhatikan mereka satu persatu.  Hanya Rendy dan seorang suster yang tidak berpasangan. Dia kelihatan sedikit gelisah, beberapa kali berdiri dan mondar mandir sambil melirik para undangan, seperti ada yang sedang dicari. Saat matanya tertuju padaku jantung  berdegup kencang, aku jadi salah tingkah, hanya sebentar  menatap tanpa senyum lalu kembali duduk. Mungkin  sedang memastikan kehadiranku.  Hatiku kembali bergejolak.

Ketika  MC mengantar para undangan ke acara santap malam bersama, aku pamit pulang. Mereka menikmati pesta yang meriah dengan hidangan beraneka macam, diiringi alunan musik lagu-lagu nostalgia dan pop terkini, namun semuanya tidak mempengaruhi hatiku yang kian  merana dan terpuruk.   

Sikap Randy  membuat aku ingin  cepat-cepat meninggalkan desa yang telah menjadi bagian dari hidupku.  Aku butuh suasana yang bisa menghilangkan  segala kekecewaan dan sakit hati,   sampai Randy kembali ke Papua.

“Cristin, saya ijin  selama 2 minggu, besok pulang ke rumah orang tua.”

“Ada keperluan apa Yanti?” Cristin menatap kaget.

“Urusan  penting, juga  butuh refreshing.”

“Yah.. sebaiknya begitu,  kamu kelihatan kurang sehat, saya akan menghandel semua pekerjaanmu teman.” Cristin meraih tanganku lalu digegam seakan ingin memberikan keyakinan.

“Terima kasih.” Aku memeluk Cristin  penuh haru.

Baru seminggu di rumah orang tua, muncul  sebuah sms dari nomor tak dikenal  “mama Marta sakit keras, sebaiknya ibu pulang.”   Awalnya ragu, mungkin ada yang sedang jahil, tapi rasa cemas terus merasuk. “Tante Marta sudah seperti orang tua sendiri, aku tak mau dia sakit, harus kusembuhkan”, bahtinku.

Buru-buru kuraih tas yang masih tergeletak di lantai kamar tidur, kumasukan semua pakaian dan barang  kebutuhan, jangan sampai ada yang tertinggal, lalu pamit  “mama, saya pulang ke desa  sekarang.” 

Mama sangat terkejut “katamu liburan dua minggu, sekarang baru  satu minggu”, perasaan kecewa tergambar di wajah wanita tua itu, iba hatiku melihatnya, mungkin belum puas melepas ridu.

“Ia ma, tante Marta sakit keras, saya harus pulang.” Kucium kedua pipinya lalu pergi.

Untung  bus terakhir belum berangkat, aku duduk pada deretan paling belakang. Perjalanan panjang dan melelahkan membuat seluruh tubuh terasa pegal, bayangan tante Marta terus  menari-nari dalam pikiranku, rasa cemas  kian merasuk. 

Saat memasuki perkampungan aku berpapasan dengan Siska anak tante Marta, wajahnya ceria seperti biasa, bahkan dia sangat gembira melihat kedatanganku. “Ka Yanti,  syukur kakak sudah pulang, saya  dan mama kangen.” Lalu memelukku  erat.

“Bagaimana keadaan  tante Marta?” Aku bertanya cemas.

“Mama baik, sekarang sedang ke  sawah.” Ternyata aku dibohongi  seseorang. Rasa lega dan kecewa berbaur jadi satu. “Siapakah yang telah mengirim sms itu”?  Sekejap semangatku hilang, langkah rapuhku mengalir, setapak demi setapak  menuruni jalan desa yang berbatu dan kelikir. “Saya telah ditipu.... saya telah ditipu....” Tangis hatiku.

Di rumah hanya mampir sebentar lalu ke sawah, ingin cepat-cepat betemu tante Marta. Jalan menurun dan menanjak menjadi tak terasa, hilang ditelan rasa kecewa  mendalam, “mungkin tante Marta tahu si pengirim sms, akan kuhajar orang itu” aku membhatin.

“Tante Marta, tante Marta....” Aku memanggil-manggil namun tak ada jawaban, hanya terdengar percikan air dan  kicauan burung. Hamparan sawah  memandangku bisu. Kuhempaskan tubuh di teras pondok, lalu duduk selojoran sambil menerawang jauh, melepas lelah dari kejenuhan.  Biarlah semua kuhadapi meski sukma tak rela. Aku harus tegar menghadapi walau bercucuran air mata.   

“Selamat sore”, tiba-tiba sebuah sura mengejutkan aku, jantungku bergetar,  tak percaya dengan apa yang baru  kulihat. Seperti melihat hantu di siang bolong. Aku diam, mulutku terkatup rapat, bibir  tak mampu digerakkan.

Randy menghampiriku, aku semakin gugup. Ingin rasanya mencari perlindungan, dalam balutan selimut tebal  di kamar sempitku. Aku hanya bisa menutup mata dan membenamkan kepalaku dalam-dalam diantara kedua lutut. Seperti seorang pencuri yang sedang ketakutan setelah kepergok warga.

“Yanti, Yanti... mengapa kamu seperti ini?” Randy mengguncang tubuhku. Entah mengapa pandanganku berubah  gelap lalu  tubuh roboh ke lantai. Randy panik dan kebingungan, berkali-kali   memanggil namaku sambil menggoncangkan tubuh yang terkulai lemas.

Setelah sadar kudapati tubuhku berada dalam pangkuannya. Randy tersenum lega, aku gerogi dan berusaha bangkit, namun tangan kokoh Randy tidak mebiarkan aku pergi  lalu  mendekapku erat-erat. Aroma keringat menusuk  hidung, baju kaosnya basah  penuh peluh. Perlahan  tetesan air mata  mengalir ke pundaku menembus sampai  relung hati. Tak percaya  Randy tangisi aku, rasa benci hilang seketika,  kubenamkan wajahku di dadanya, untuk mendapatkan kedamaian di sana.

“Jangan pergi dariku Yanti”, Randy berbisik lirih. Aku mengangguk pelan, Randy semakin erat memelukku. “Kamu yang mengirim sms itu?”  Randy diam, menatapku dalam-dalam. “Yah... aku yang melakukannya, aku rindu padamu.” Balik aku  memeluknya, kucium kedua pipi  lalu kening.  Hatiku tak mungkin membohongi jiwa, rasa rindu milikku pun ada untuknya.

Tiba-tiba  takut kehilangan Randy merasuk hati, mungkin esok atau lusa dia akan kembali ke Papua. “Kapan  pulang?” Mendengar pertanyaanku Randy  hanya tersenyum, aku bingung dan penasaran. Diraihnya tanganku lalu digenggam, “saya tidak kembali, kutambatkan bidukku di sini karena engkaulah pelabuhan hatiku”. Bersorak riang jiwaku, kuncup-kuncup bunga bermekaran di sana. Akhirnya Tuhan menyatukan kami kembali.