Agnes P. Ndendong
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta aku duduk
santai sambil baca koran di ruang tunggu
bandar udara Ngurah Rai - Denpasar. Waktu keberangkatan masih 1 jam lagi, sangat
membosankan menunggu tanpa teman ngobrol, separuh waktu
sudah kuhabiskan untuk mondar mandir
di tempat penjualan cindera mata khas Bali. Bahkan untuk membuang rasa
jenuh aku membaca koran sampai iklan niaga karena hampir semua berita manca
negara, nasional dan lokal telah kulahap sampai habis. Saking asyik membaca tidak memperhatikan
sekeliling walu suasana cukup ramai oleh
hiruk pikuk para penumpang yang akan berangkat ke berbagai tempat tujuan. Saat mata mulai lelah perlahan kulipat koran
dengan sangat rapih lalu diselipkan pada
salah satu tas tangan yang berisi oleh-oleh buat keponakan yang kuliah di Jakarta.
“Hai apa khabar?” terdengar suara seseorang yang duduk di samping. Jantungku berdegup kencang saat
menoleh untuk menjawab sapaan tersebut.
“Kamu Dion?” Tanyaku ragu. “Ya, aku Dion,” sambil mengulurkan
tangan. Berat rasanya menyambut tangan
tersebut, terlintas dalam ingatan
kejadian 10 tahun yang lalu, Dion menghilang tanpa berita membuat aku depresi
berat. Melihat tangannya yang terus
diulur akhirnya kuterima dengan sikap dingin,
kami berjabatan tangan. “Lama tidak bertemu, kamu masih seperti yang
dulu.” Aku tetap diam sambil memperhatikan Dion dari ujung rambut sampai kaki.
Dia kelihatan agak kurus, wajah lebih tua dari umurnya. “Lita, mengapa kamu
diam ? Apakah kamu tidak menyukai
pertemuan ini? Bicara donk.” Dion memelas seperti seorang anak kecil yang merengek
minta dibelikan mainan. “Ok, tak mengapa”. Dion tidak memaksa aku untuk
menjawab, namun terus menatap diriku, aku jadi salah tingkah. Karena terus diperhatikan aku melempar pandangan ke tempat
lain, memperhatikan orang-orang yang hilir mudik di ruang tunggu. Hatiku terus
menggerutu “sialan, mengapa orang ini bisa muncul lagi dalam hidupku”. Aku jadi tidak betah duduk di sampingnya. Entah mengapa ada
dorongan untuk meliriknya, mungkin karena tidak percaya dengan apa yang barusan
dilihat, ternyata dia juga sedang
melirik aku, mata kami saling beradu pandang, jantungku bergetar tak karuan. “Kamu mau kemana Lita?” Kembali Dion membuka pembicaraan, suaranya yang
lembut mencairkan hati yang beku. “Ke Jakarta”.
Jawabku singkat. “Sama donk, saya juga ke Jakarta”. Dion menginformasikan kota
tujuannya, semoga tidak satu pesawat bhatinku.
Tiba-tiba terdengar panggilan agar para penumpang pesawat Lion Air dengan nomor
penerbangan JT 22 tujuan Jakarta segera menuju
pesawat melalui pintu 17. ‘”Maaf aku
harus berangkat sekarang”, pamit pada Dion, “Kita satu pesawat Lita”. Cepat-cepat aku
meraih tasku dan bergegas ke pintu 17, Dion menyusul dari belakang, aku tidak
perduli. Syukur kami tidak duduk berdampingan karena aku duduk di kursi nomor
10A sedangkan Dion jauh di belakang.
Sepanjang perjalanan
bayangan masa lalu terus menghantui pikiranku. Aku ingat setelah selesai kuliah
Dion ditarik untuk bergabung ke salah satu perusahan tambang di Kalimantan sedangkan aku kembali ke
kampung halaman. Walaupun jauh hubungan kami tetap langgeng, saling setia satu
sama lain sejak masih duduk di bangku SMA. Kami memiliki seorang teman akrab
bernama Rio yang sangat mendukung hubungan kami. Rio sama seperti aku, setelah
selesai kuliah pulang mengabdi di tanah kelahiran. Selama Dion berada di
Kalimantan Rio tetap setia menjadi sahabatku bahkan Dion menitipkan aku pada
Rio agar dijaga sampai Dion datang melamar dan menikahi aku. Namun 10 tahun
yang lalu Dion tiba-tiba menghilang, aku sangat menderita dan mengalami depresi
berat. Untung ada Rio yang setia menghibur dan membangkitkan aku dari
keterpurukan. Setelah bisa melupakan Dion, perlahan muncul benih-benih cinta
diantara kami. Ketika Rio mengungkapkan
isi hatinya aku langsung menyambut dengan gembira, karena diam-dam aku juga
mencintainya. Rio seorang sahabat yang baik. Bila sedang dalam masalah Rio setia
mendengar curahan hatiku dan menghibur dikala sedih. Akhirnya kami menikah dan dikaruniai 2 orang
anak Regi dan Aldi. Ternyata Rio bukan hanya teman yang baik tetapi juga suami
yang sangat bertanggung jawab, cintanya yang luar biasa membuat hidupku
diwarnai kebahagiaan. Namun tidak bertahan lama, kebahagianku direnggut oleh kecelakaan yang menimpa Rio 3
tahun yang lalu, Rio telah pergi untuk
selamanya. Lamunanku terusik oleh pramugari yang membagi makanan ringan,
setelah menerima kotak makanan aku melirik jam tangan, masih ½ jam lagi sampai
Jakarta. Tanpa membuang waktu aku
langsung menghabiskan kue yang ada di dalam kotak, lega rasanya setelah perut terisi
kembali. Sisa waktu aku habiskan dengan membaca ulang
koran yang kubeli di bandara Ngurah Rai.
Setelah pesawat landing aku kemasi barang bawaanku,
jangan sampai ada yang ketinggalan, lalu
melangkahkan kaki ke pintu keluar. Perlu kesabaran untuk antri karena penumpang
sangat penuh.
“Bagasimu sudah diambil
Lita?” Suara Dion mengejutkan aku. “Belum”, jawabku singkat tanpa sedikitpun
menoleh, rasa benci dan kecewa masih tersisa di hati. “Ada yang jemput? Kalau
tidak, kita bisa bareng, akan kuantar ke penginapanmu”. Dion menawarkan
jasanya, “maaf, aku akan dijemput
keponakan yang sedang dalam perjalanan ke mari”. Setelah sebuah tas
ditemukan aku langsung menuju kursi kosong untuk melepas
lelah sambil memperhatikan sekeliling ruangan. Dari jarak yang cukup dekat
nampak hiruk pikuk para penumpang Lion
Air mencari barang bagasi
dan pada arah lain muncul serombongan penumpang yang baru turun dari pesawat,
suasana ruangan pengambilan bagasi menjadi semakin ramai.
Dion
menuju tempat dudukku setelah barang ditemukan, langkahnya tidak segagah
dulu, mengapa jalannya pincang? Aku sedikit terkejut dan terus memperhatikannya. “Bolehkah aku duduk di sampingmu?” Dion
bertanya ragu, mungkin karena sejak pertama kali bertemu aku bersikap dingin
padanya sehingga agak canggung. “Silahkan” jawabku sambil melempar senyum,
untuk pertama kali aku bersikap ramah padanya.
“Ada urusan apa ke Jakarta?” Melihat perubahan sikapku Dion
semakin berani bertanya. “Mau ikut Workshop,
kamu masih tinggal di Kalimantan?” Aku balik bertanya. “Tidak, sudah 10 tahun tinggal
di Jakarta, sejak kecelakaan aku tidak bisa aktif di lapangan, untung otakku masih dibutuhkan sehingga
tidak pensiun dini dan dipindahkan ke kantor pusat”. Sambil matanya
menerawang jauh. “Kakiku sudah diamputasi”. Dion memperlihatkan kaki kiri yang telah diganti kaki palsu. Hatiku miris, pantas tubuhnya
berubah ceking, mungkin karena kondisi tubuh membuat hidupnya penuh beban, aku
tahu persis Dion seorang yang sangat aktif dan kretif. Percakapan kami terhenti oleh telpon Yani yang
sudah menunggu di depan pintu keluar.
Aku pamit pada Dion, sekali lagi dia menawarkan jasa untuk mengantar ke tempat
penginapan. Aku tidak mampu menolak, Dion kegirangan. Sepanjang jalan
lebih banyak diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Cerita Dion menimbulkan tanda tanya besar.
“Apakah kecelakaan 10 tahun yang menyebabkan putusnya hubungan kami? Mungkin
Dion malu karena sudah kehilangan sebuah kaki”. Pikirankku menjadi tidak
karuan. “Bagaimana khabar Regi dan Aldi tante?” Pertanyaan Yani memecah sunyi.
“Mereka baik-baik saja, Aldi sempat rewel
sebelum tante berangkat”. Jawabku. “Anak kamu berapa Lita?”, Dion ikut
nimbrung. “Anakku dua, yang sulung cewek namanya Regi dan si bungsu cowok
namanya Aldi”. Kalau kamu berapa?” Aku balik bertanya. “Istri saja belum punya,
apa lagi anak.” Jawab Dion penuh canda. “Ah..
yang benar, bilang saja kalau anakmu
sudah 5 orang atau 10 orang”, aku tak percaya.
“Benar Lita, aku belum menikah, siapa
nama suamimu?” Mendengar jawaban dan pertannyaan Dion, lidahku menjadi kaku dan
tenggorokanku mendadak kering, untuk
menelan ludah saja rasanya sulit. “Mengapa
diam Lita? Jawab donk, siapa tahu aku kenal suamimu”. Tenggorokanku semakin kering, aku berusaha untuk
menjawab tetapi yang keluar hanya batuk panjang, aku benar-benar tak mampu
menjawab. Dion memberikan sebotol minuman agar batukku reda. “Maaf
Dion, belum bisa kujawab, akan aku ceritakan setelah kegiatan Workshop”. Dion tidak keberatan.
Sejak bertemu Dion pikiranku
menjadi ruwet, untung Workshop kali ini materinya sangat menarik membuat aku bisa melupakan semua yang telah
mengganggu ketenangan bhatin. Waktu 5 hari mengikuti workshop cukup memulihkan pikiran dan perasaan yang sempat terusik.
Rupanya Dion ingat akan
janjiku, selesai kegiatan aku dijemput. “Kita kemana dulu nich?” tanya Dion.
“Ke kost Yani, malam ini aku nginap dikostnya dan besok pagi pulang kampung”.
Jawabku. “Besok sudah pulang?” Dion bertanya tak percaya. “Ya, besok pulang,
tiket sudah kubeli”. Tergambar kekecewaan di wajahnya, namun tak ada
komentar. Hiruk pikuk lalulintas kota
jakarta terus menemani perjalanan kami menuju kost Yani.
Dion mengajak aku dan Yani
makan siang di luar, ternyata Yani tidak
bisa ikut karena ada kuliah siang dan sore. Akhirnya cuma kami berdua yang
berangkat, mobil parkir tepat di depan
sebuah restauran sederhana nan asri, aku sangat menyukai tempat tersebut. Kesemerawutan
lalulintas kota Jakarta tak terasa berkat rimbunnya pohon di sudut restauran.
Kesejukan taman yang ditawarkan memikat hati para pengunjung, nampak bagai
taman yang indah dengan saung-saung kecil sebagai tempat makan lesehannya.
Kami memilih tempat paling
pojok karena di depan saung terdapat kolam ikan yang dilengkapi pancuran buatan, sudah pasti akan membangkitkan selera makan. “Silahkan
pesan makanan kesukaanmu Lita”, Dion menyodorkan daftar menu yang tersedia di
restoran tersebut. Aku memilih ikan bakar, cah kangkung dan jus alpokat, ternyata Dion memesan menu yang
sama. Setelah dicicipi ternyata tidak hanya menyajikan tempat yang menyenagkan
tetapi juga hidangan yang sangat lezat. “Maaf, bolehkan kita melanjutkan cerita
yang lalu? Aku masih penasaran karena jawabanmu belum tuntas”. Dion mengaketkan
aku yang sedang melahap makanan. Sulit sekali menelan makanan yang sudah
terlanjur masuk ke mulut, kuminum segelas air putih dan berusaha untuk
mengendalikan perasaan, lalu coba santai sejenak. “Baik lah Dion, kamu bertanya tentang suamiku. Aku menikah
dengan orang yang sangat kamu kenal, bahkan sangat dekat, Rio teman kita”. Wajah Dion berubah pucat, makanan yang hendak masuk ke mulut dikembalikan ke piring. “Kamu menikah
dengan Rio?” Suaranya bergetar, terasa ada luapan emosi
yang tertahan. “Ya, kami nikah setelah lama tak ada berita darimu, Rio sangat
setia menemani dan menghiburku saat aku stres dan depresi berat, sehingga
ketika dia menyampaikan isi hatinya dan melamar, aku tak keberatan”. Dalam
sekejap Dion kehilangan selera makan, makanan yang ada tidak disentuhnya lagi. “Mengapa kamu tidak menikah dengan orang lain?
Aku benci Rio.” Dion berkata lirih. “Seharsnya kamu bersyukur Rio menjadi
suamiku karena dia seorang laki-laki yang baik, tidak pantas kamu membencinya. Mengapa kamu menghilang 10 tahun yang lalu?” Kini giliranku yang
kehilangan selera makan akibat emosi, terasa kesejukkan restauran berubah
kering dan gersang, membuat aku tak betah. “Karena aku cacat Lita, setelah
kecelakaan aku jadi tidak percaya diri dan memutuskan untuk tidak melanjutkan
hubungan kita, aku tidak ingin kamu
memiliki seorang suami yang cacat dan anak-anakku memiliki ayah yang cacat”. Air
matanya tak bisa dibendung, aku menyodorkan sebungkus tisu. Air mataku pun terus menetes. “Mengapa kamu
tidak menceritakan musibah itu padaku? Aku tidak akan malu memiliki suami yang
cacat karena aku sangat mencintai dirimu”. Ada rasa penyesalan yang luar biasa.
“Yah, apa boleh buat, kamu sudah menjadi istri Rio, semoga kami tidak akan pernah bertemu, aku sangat
cemburu karena dia teman dekatku, sangat
menyakitkan bila melihat kebahagiaan kalian”. Dion berkata dengan pasrah namun
sedikit emosi. “Kamu tidak akan pernah
bertemu Rio, karena dia telah pergi untuk selamanya”. Jawabku lirih, tangisku
semakin menjadi-jadi mengenang kekasih hati yang telah tiada. Dion tidak
melanjutkan pembicaraan, membiarkan aku puas menangis. Setelah tangisku reda
Dion bertanya “Ada apa dengan Rio, dia
meninggalkanmu? Kemana perginya? Dia telah menyakitimu?” Aku berusaha tenang
“Rio tidak menyakitiku, dia meninggalkan aku dan anak-anak bukan karena keingiannya
tetapi karena Tuhan lebih mencintainya. Rio
meninggal 3 tahun yang lalu akibat kecelakaan lalulintas”, Dion tertegun
mendengar ceritaku.
Setelah meninggalkan
restoran aku meminta Dion menemaniku ke ITC
Mangga Dua untuk membeli oleh-oleh buat Regi dan Aldi. Dion ikut membantuku
memilih barang. Setelah mendapatkan
semua yang aku cari kami langsung pulang
karena akan makan malam bersama di kost Yani.
“Tante Lita masak donk, aku
capek nich”, Yani memohon, mungkin kelelahan setelah kuliah karena kampusnya
cukup jauh dari kost. “Tapi jangan marah kalau masakan tante kurang enak ya”, lalu
aku beraksi di dapur, tidak sulit hanya memasak sayur bayam dan tempe
goreng, makasakan sederhana, menu anak kost.
Aku melihat Dion makan dengan sangat bersemangat, “masakanmu enak, boleh
aku tambah?” Yani ikut-ikutan menambah makanan. Senang sekali melihat Dion dan
Yani melahap masakkanku sampai habis.
Jam 7.00 pagi Dion menjemput
dan mengantarku ke bandara Soekarno-Hatta, Sebelum masuk ke ruang keberangkatan aku pamit pada Dion, tak kusangka Dion mencium keningku, aku jadi salah tingkah. Terasa
ada yang aneh dalam hati, kebahagia yang
luar biasa. “Kalau sudah sampai jangan
lupa telpon.” Aku mengangguk lalu
pergi. Baru dua langkah meninggalkan Dion terdengar lagi ucapanya “aku momang ite enu”. Jiwaku bergetar, aku balik dan melempar senyum
lalu bergegas menuju ruang tunggu.
Masih ada cinta untukmu Dion, maafkan aku Rio.

Cinta yg tulus itu mencintai dengan menerima apa adanya,
BalasHapusmencintai dgn menerima masa lalu
Cinta yg tulus itu tanpa pamrih, cinta yg tdk minta untuk dibalas.
Cinta yg tulus tdk bisa dibeli dgn uang, tapi dengan pengorbanan
Cinta yg tulus tidak akan pernah menyakiti org yg kita cintai dgn alasan apapun...